Jumat, 08 Maret 2019

Nyepi Diharapkan Menjadi Contoh Bagi Dunia



Jembrana (Wisma Berita)

Hari raya Nyepi merupakan hari pergantian tahun Saka bagi umat Hindu di Bali yang dilaksanakan setiap tahun sekali yakni selalu dimulai sehari setelah Tilem sasih Kasanga atau bulan ke IX dalam hitungan kalender Bali.

Sehari sebelum pelaksanaan hari raya Nyepi dilakukam Pangerupukan yakni merupakan upacara Nyomia Butha Kala. Bhuta berarti Ruang dan Kala berati Waktu, maka Bhuta Kala berarti Ruang dan Waktu sama dengan Dimensi. Nyomia disini dimaksudkan adalah untuk mengjarmonisasi aura negatif dengan aura positif yang ditimbulkan oleh Ruang dan Wakti (Dimensi) ini.

Pada tahapan ini khusus di Bali, Pangrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Bhuta Kala yakni Ruang dan Waktu itu adalah sebagai filosofi sosok yang kejam, diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu menyemimbangkan antara Bhuta Kala dalam lingkungan sekitar.

Jro Mangku Suardana, Pemangku Pura Tirtha lan Segara Dangkahyangan Rambutsiwi, yang juga merupakan Anggota Korem 163/Wirastya, Jumat (8/3) mengatakan dimana zaman dulu saat masa keemasan Kerajaan Majapahit, hari raya Nyepi oleh umat Hindu dirayakan sebagaimana diuraikan oleh Sang Maha Mpu Prapanca di dalam karya sastranya yang indah sekali yang diberi nama Desa Warnana yang sekarang lebih dikenal dengan nama Negara Kertha Gama.

Adapun petunjuk-petunjuk itu diterangkan di dalam lontar Sundari Gama yang memuat tentang tata cara dan tata upacara yadnya merayakan pergantian tahun Saka ini yang dinamakan Hari Raya Nyepi.

Pada pustaka suci inilah diuraikan secara panjang lebar tentang upacara makiyis atau melis, tawur kasanga, Nyepi / Sepi / Sipeng dan Ngembak Gni termasuk Brata-brata Panyepian yang terdiri dari Amati Gni, Amati Karya, Amati Lelungaan dan Amati Lelanguan seperti yang secara patut dan taat dilaksanakan oleh umat Hindu di Bali.

Berikut pada pustaka suci Sang Hyang Aji Swa Mandala ditambahkan lagi petunjuk waktu pelaksanaan Tawur Kasanga, sebagai berikut ;

“Jika menyelenggarakan upacara yadnya tawur jangan mencari waktu lain dari pada Tilem Kasanga seburuk-buruknya hari akan dihapuskan oleh Sang Hyang Swa Mandala, sebab hari ini adalah waktu yang paling tepat untuk mengadakan upacara pensucian bumi dengan segala isinya, sehingga pada waktu itu harus diadakan upacara Tawur kasanga sebagai Pamarisudha Bhumi, inilah Swa Dharma dari umat Hindu untuk memohon kerahayuan, kesejahteraan dan kebahagiaan dunia”.

"Begitulah petunjuk-petunjuk tersebut yang dalam pelaksanaannya bervariasi seiring dengan perkembangan nilai-nilai budaya yang terjadi pada masyarakat umat Hindu itu sendiri yang erat hubungannya dengan tempat tinggalnya, keadaan sosial ekonominya, lingkungannya dan lain-lainnya", jelas Jro Mangku Suar.

Menurutnya, secara bathiniah umat Hindu melakukan Brata Panyepian sehari penuh pada hari raya Nyepi. Brata ini berarti disiplin bathin yakni adanya upaya mengendalikan diri, jauh dari sikap suka ria, berfoya-foya dan meriah. Sehingga Brata Panyepian adalah upaya membuat segenap Bhuwana Agung atau Alam Semesta menjadi sepi atau sipeng, dengan ciri-cirinya yang khas adalah melaksanakan Catur Brata Panyepian diantaranya Amati Gni, Amati Karya, Amati Lelungaan dan Amati Lelanguan.

Brata Panyepian dilaksanakan secara Sekala maupun Niskala, yakni :

Amati Gni, secara sekala, Amati Gni adalah benar-benar pada hari raya Nyepi, tidak menyalakan api dan tidak menyalakan lampu atau memicu hal yang bersumber dari energi panas dalam satu hari penuh atau selama 24 jam, sedangkan secara niskala, Amati Gnni itu mengandung arti mematikan nafsu serta keinginan yang bergejolak terutama yang mengarah pada hal-hal yang negatif (adharma), sebab dalam Adyatmika, api itu diproyeksikan kepada api misalnya aksara suci Ang adalah dewanya Brahma yang bersemayam di hati. Dimana hati merupakan pusat keinginan, hati adalah kehendak dan pusat nafsu, untuk itu mematikan api pada waktu Nyepi, mengandung simbolis memadamkan keinginan hawa nafsu yang bergejolak dan menjurus kepada kehendak-kehendak negatif hingga melahirkan Tri Kaya Parisudha yakni pengendalian pikiran, kata dan perbuatan agar dapat membuat keseimbangan, ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup di dunia ini.

Amati Karya, dalam rangka melaksanakan Brata Panyepian mengandung makna menghentikan sejenak kegiatan-kegiatan jasmaniah dan perhatian dipusatkan pada perbuatan-perbuatan apa yang telah dilakukan selama tahun saka yang telah lewati hingga melahirkan mawas diri atas masalah-masalah yang telah lalu adalah penting untuk menghitung-hitung Subha dan Asubha Karma (perbuatan baik dan buruk).

Amati Lelungaan, adalah tidak bepergian pada prakteknya tidak keluar rumah pada waktu hari raya Nyepi sehingga menjadi salah mengartikan hari Nyepi dengan mengisi kegiatan berkunjung dari rumah ke rumah atau Tirtha Yatra. Nyepi mengandung arti bahwa umat memusatkan pikiran untuk melaksanakan brata penyepian itu. Dimana pikiran kita hendaknya dipusatkan pada Hyang Widhi Wasa dan memohon agar beliau menyinari hati umatnya dan memberikan bimbingan ke jalan yang benar dalam menjalani kehidupan mendatang.

Amati Lelanguan, adalah bagian dari Brata Panyepianbyang mengandung makna menekan tuntutan hawa nafsu. Lelanguan berarti kesenangan dimana kesenangan itu akan muncul dari pemuasan hawa nafsu. Sehingga dalam hal ini umat Hindu dituntut dapat menekan hawa nafsu yang mengandung arti meminimalisir pengaruh sad ripu, sadtatayi, sapta timira, tri mala dan jenis-jenis nafsu negative lainnya. Kenapa kesenangan harus ditekan, sebab sudah tentu tidak dapat dilenyapkan, akan tetapi kesenangan itu akan membawa manusia ke arah kesombongan, takabur dan lipya yang akan berakhir pada kesusahan.

Berikut, sehari setelah melaksanakan Nyepi, umat Hindu di Bali melaksanakan Ngembak Gni dimana Ngembak Gni ini sebagai filosofi mulainya kehidupan baru sehingga ada saat Ngembak Gni biasanya umat Hindu di Bali melakukan persembahyangan memanjat syukur dan memohon agan Tuhan senantiasa selalu memberikan perlindungan-Nya. Selain itu saat Ngembak Gni juga dilakukan Dharma Shanti (bersilaturahmi dan saling memaafkan), baik di lingkungan teman, keluarga maupun masyarakat. Di beberapa Desa di Bali menandai gembak Geni dengan sebuah tradisi unik yaitu tradisi omed-omedan yang juga merupakan salah satu wujud dari Dharma Shanti (menjalin silaturahmi).

Namun, di era sekarang seiring perkembangan peradaban sunnguh terjadi peralihan yang membawa perubahan suasana dalam setiap pelaksanaan hari raya Nyepi. Dimana perubahan perasaan dan lebih-lebih lagi bila peralihan itu mengenai suatu hal yang berhubungan dengan kehidupan manusia dan pada satu peralihan kondisi masa lalu akan menghilang dengan meninggalkan bekas-bekas atau kesan saja, sedangkan masa mendatang tak pernah terbayang secara konkrit sehingga pada umumnya sering dihadapi dengan perasaan harap-harap cemas, bimbang dan ragu.

Selanjutnya, menghadapi peralihan disini maka perlu dilakukan usaha-usaha untuk memperkokoh pikiran dan memperkuat bathin. Agama Hindu memberikan petunjuk dan mewajibkan diadakannya upaya-upaya tertentu dalam dan untuk menghadapi setiap peralihan, baik peralihan yang menimpa siklus kehidupan seorang maupun peralihan mengenai kelompok masyarakat atau jagad.

Upaya-upaya ini hendaknya dilakukan dalam mewujudkan konkrit dan abstrak, upaya dalam wujud konkrit lahiriah yang dilakukan oleh umat Hindu dalam menghadapi suasana peralihan dari tahun Saka atau tahun baru Saka, adalah dengan upacara keagamaan yang bertujuan Marisudha Bhumi yakni membersihkan Bhuana Agung (Alam Semesta) dari kekotoran sebagai akibat hubungan disharmonis antara Bhuwana Agung dengan Bhuwana Alit (Jasmaniah) dan produk-produk pemikiran, keinginan dan aktifitas-aktifitas negatif, yang dirumuskan dalam istilah adharma yang terjadi dalam menempuh kehidupan selama berlangsungnya perjalanan tahun saka yang lalu.

Melaksanakan Catur Brata Panyepian ini sesungguhnya sangatkah berat, sehingga banyak wisatawan maupun umat lain yang engkang meninggalkan Bali, namun banyak juga yang ingin menikmati keheningan alam saat pelaksanaan Nyepi di Bali dan kami sebagai inzan beragama Hindu di Bali justru bangga kepada Leluhur Bali dan Nusantara yang telah sangat bijak melahirkan hari raya Nyepi, karena jika kita mau mengakui secara hati nurani, Nyepi adalah upaya mengistirahakan Alam Semesta beserta seluruh kehidupannya sesungguhnya alam semesta yang sudah lelah dalam perpuratan kehidupannya masing-masing, walau hanya sehari saja dalam setahun akan tetapi Nyepi menjadi sangat berarti untuk megurangi beban alam semesta dari segala kekotoran atau polusi baik polusi yang lahir di zaman now seperti yang ditimbulkan dari penggunaan kendaraan, pesawat, kapal laut, internet dan sebagainya.

"Demikianlah rangkaian, makna dan pengertian-pengertian yang terkandung dalam hari raya Nyepi yang kita selenggarakan pada setiap tahun sekali. Hal ini kami sajikan sebagai salah satu pedoman bagi kita dalam merayakan hari suci ini. Sedari hal itu, hari raya Nyepi hendaknya bukan saja harus dihormati antar umat beragama tetapi semoga dapat menjadikan aspirasi pencontohan bagi Dunia di masa-masa mendatang sebagai satu diantara upaya penyelamatan keseimbangan Alam Semesta beserta seluruh Kehidupannya", harap Jro Mangku Suar (!)

Kamis, 14 Februari 2019

Mirah Brumbun (Ruby Pancawarna) Si Raja Permata





Ciri dari mirah ini adalah disusun atas warna yang beragam, umumnya ada unsur warna Putih, Merah, Kuning dan Hitam. Starnya ada yang Bintang dan ada juga yang star Neon.

Mirah ini dapat dikatakan sebagai Rajanya dari segala Permata, sebab orang menyebut permata warna apapun maka segala warna yang disebutkan itu ada pada mirah Brumbun, sehingga kasiat mirah Brumbun ini adalah sebagai pematuh atau penetral dan penyeimbang.

Fungsi lain dari mirah Brumbun ini juga untuk menentramkan dan membawa yoni kedamaian bagi keluarga besar pemilik mirah itu. Kebahagiaan dan ketentraman lahir batin selalu menyelimuti pemilik mirah. Mirah ini akan senantiasa membawa keberuntungan dan rejeki bagi pemiliknya.

Mirah ini sangat langka atau susah didapat hingga kalaupun ada pastilah harganya sangat mahal bahkan bisa sampai ratusan juta  karenanya umat Hindu di Bali meyakini mirah Brumbun ini biasanya digunakan sebagai inti dari Panca Dathu dan juga digunakan sebagai Monmon dengan cara dimasukkan pada mulut orang meninggal dengan maksud menghilangkan bau serta mengembalikannya pada unsur Panca Maha Butha. (!)

Rahinan Tumpek Adalah Hari Kasih Sayang Di Bali


Jembrana (Wismaberita)

          Jro Mangku Suardana, Pemangku Pura Tirtha Lan Segara Dangkahyangan Rambutsiwi yang juga adalah anggota Korem 163/Wirasatya, menyambut hari Kasih Sayang Sedunia yang dikenal dengan Valentine Day dengan sewajarnya saja karena menurutnya kasih sayang itu dilakukan hendaknya setiap saat.

Dikatakannya, Bali memiliki keunikan tersendiri terlebih masalah perhitungan hari yang mengacu pada Wariga, sehingga Bali tidak mesti ikut-ikutan kegiatan yang hukumnya belum diketahui secara pasti karena Bali sesungguhnya telah memiliki falsafah hidup tangguh diantaranya ajaran Tri Hita Karana yang berarti Tiga Penyebab Terciptanya Kebahagiaan.

Berbicara masalah hari Kasih Sayang, Bali juga sudah memiliki waktu istimewa tersebut yakni menurutnya ialah saat hari (rahinan) Tumpek, diantaranya Tumpek Klurut itu merupakan hari Kasih Sayang terhadap sesama manusia. Bukan saja itu, bahkan Bali juga mengasihi sesama makhluk ciptaan Tuhan, yakni saat rahinan Tumpek Uye yang dikenal dengan Tumpek Kandang adalah hari kasih Sayang terhadap Hewan sedangkan rahinan Tumpek Wariga yang lumrah dikenal Tumpek Pengarah itu adalah hari Kasih Sayang terhadap Tumbuhan dan masih banyak lagi hari Kasih terhadap unsur yang membentuk Bali itu sendiri yang tak lepas dari ajaran Tri Hita Karana tadi yang pada hakekatnya adalah menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini.

Ketiga hubungan itu meliputi hubungan Manusia dengan Sesama Manusia, hubungan Manusia dengan Alam Sekitar, dan hubungan Manusia dengan ke Tuhan yang saling terkait satu sama lain. Dimana, setiap hubungan ini memiliki pedoman hidup menghargai sesama aspek sekelilingnya dengan menonjolkan makna kasih sayang dan prinsip pelaksanaannya juga harus dilakukan secara seimbang, selaras antara satu dan lainnya. Sebab, apabila keseimbangan tercapai, disinilah manusia akan hidup dengan cara selalu menghindari segala tindakan buruk, hingga hidupnya akan senantiasa Tenteram, dan Damai serta penuh Kasih Sayang", papar Jro Mangku. (!)

Senin, 24 Desember 2018

Banjir Bandang Bilukpoh Diyakini Perjalanan TAPA




Jembrana (Wisma Berita)

Jro Mangku Suardana (43), salah seorang Pemangku di Pura Dangkahyangan Rambutsiwi bergegas menuju lokasi pasca terjadinya musibah banjir bandang di Lingkungan Bilukpoh, Kelurahan Tegalcangkring, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Sabtu (22/12) sekira pukul 23.30 Wita yang membuat arus lalu lintas kendaraan di jalan raya Denpasar Gilimanuk macet total selama ± 24 jam akibat jembatan di daerah tersebut tersangkut batang kayu yang sangat besar dengan panjang ± 20 meter.
Hal itu dilakukan karena dirinya mengaku penasaran, dia yang akrab dipanggil Jro Mangku Suar ini hanya ingin membuktikan kebenaran cerita dari para tetuanya tentang adanya legenda pertapaan binatang nan telah mencapai kesempurnaannya yang di Bali dikenal dengan sebutan TAPA. 
Inilah satu hal yang tak akan pernah bisa lepas dari tanah Bali adalah hal-hal berbau mistik, klenik, unik dan sejenisnya. Misal, adanya roh-roh penunggu benda tertentu biasanya disebut siluman, legenda tentang adanya pertapaan binatang, dan sebagainya. Kepercayaan ini terus berlanjut hingga sekarang, bahkan diturunkan oleh para tetua (pangelingsir) dari satu generasi ke generasi selanjutnya. 
"Terkait masalah pertapaan, bukan saja manusia tetapi binatangpun bisa bertapa. Biasanya, manusia bertapa untuk memperoleh kesaktian atau daya linuwih, sementara hewan atau binatang bertapa jika telah mencapai kesempurnaan akan meningkat derajatnya menjadi siluman yang kemudian akan menghuni pepohonan atau bebatuan besar dan sebagainya. Setelah menjadi siluman, mereka biasanya akan kembali melanjutkan pertapaannya, sehingga pertapaan hewan ini bisa dilakukan dalam kurun waktu ada yang sampai ratusan tahun bahkan ribuan tahun, meski kegagalannya dapat terjadi, dimana sebelum mencapai kesempurnaannya terlebih dulu ada yang membunuhnya. Seperti pernah terjadi di suatu tempat, saat orang menebang batang pohon yang dikira kayu ternyata mengeluarkan darah, saat ditelusuri ternyata seekor ular yang masih hidup walaupun badannya tertembus senjat tajam. Mungkin ular itu sedang bertapa, hanya gagal karena keburu mati oleh manusia. Adapun hewan yang bisa bertapa itu adalah semua jenis hewan yang sudah tua, mereka akan mencari tempat persembunyiannya untuk bertapa tanpa makan dan minum. Diantara hewan itu, ular memiliki kebiasaan setelah makan akan tidur lama sampai dirinya merasa lapar lagi, untuk yang sudah tua dan besar, sekali makan dia akan tidur berbulan-bulan bahkan bertahun hingga sama dengan bertapa. Maka dari itu, jelas mengapa banyak sekali siluman dari jenis ular. Pertapaan ini akan dilakukan sampai jasadnya menghilang atau “ngehyang” atau menghanyutkan diri ke laut dalam perjalanannya untuk mencapai nirwana", jelas Jro Mangku. 
Menurutnya, disinilah letak keunikan dari cerita Tapa itu, dimana hewan yang bisa terbang misal seperti Belalang Sumbah atau jenis burung yang bertapa setelah keempurnaannya maka jasadnya akan menghilang bersama angin biasanya ditandai adanya angin topan atau puting beliung dan sebagainya. Jika hewan melata, biasanya ia akan menghanyutkan diri ke laut biasanya ditandai banjir bandang. Sehingga jika di Bali adanya bencana seperti angin topan atau puting beliung dan banjir bandang sering sekali dikaitkan dengan keyakinan adanya perjalanan dari kesempurnaan Tapa ini. 
"Cerita ini bisa dipercaya bisa tidak karena perjalanan kesempurnaan dari Tapa ini memang tidak bisa dilihat kasap mata, dimana orang awam hanya akan melihat adanya batang kayu besar yang hanyut, tetapi bagi orang yang kawean (lagi beruntung karena kebetulan terbuka mata bhatinnya) atau orang yang sudah memiliki tingkat sepiritual tinggi akan bisa melihat perjalanan dari Tapa ini menuju alam nirwana", jelasnya.

Menurut Jro Mangku, tidak semua banjir bandang membawa perjalanan Tapa. Biasanya perjalan Tapa ini terjadi saat hari bulan purnama tepat tengah malam antara jam 23.00 sd 00.00 dan akan meninggalkan ciri-ciri khusus sehingga bisa diketahui sebenarnya hewan apa yang telah mencapai kesempurnaan tapanya itu. Misanya, akan ada batang kayu berukuran sangat besar tersangkut pada payal jembatan karena perjalanan Tapa ini tidak bisa melintas di bawah jembatan, sehingga Tapa akan mengkondisikan batang kayu besar ini tersangkut pada payal jembatan untuk membendung air bisa mengalir di atas jembatan agar perjalanan Tapa ini bisa lewat dan terus sampai ke laut untuk kemudian menghilang. Begitupun kita akan tahu hewan apa yang melakukan Tapa, semisal di sekitar area banjir bandang ditandai banyak ada ular-ular kecil yang mati itu berarti adalah perjalanan pertapaan dari ular sebab ular-ular kecil ini ikut mengiringi perjalanan Tapa itu seperti saat banjir bandang yang terjadi di sungai Yehkuning, Jembrana Sabtu (11/2) lalu. Adapun banjir bandang yang terjadi di Bilukpoh itu diyakini adalah pertapaan dari be julit (ikan uling) karena di sekitar sungai banyak ditemukan bangkai be julit (ikan uling).


Ditambahkanya, dari cerita para tetua di Bali, bahwa jenis pertapaan yang paling dahsyat membawa bencana adalah pertapaan dari lelipi legis (ular minyak), dimana pertapaan ini biasanya akan menimbulkan kehancuran total dari daerah yang dilintasinya seperti ditandai terjadinya tsunami.

"Terlepas dari benar dan tidak, akhirnya Jro Mangku Suar mengaku turut prihatin atas segala bencana dan musibah yang terjadi akhir-akhir ini di Nusantara kita. Alam tidak pernah salah tetapi karena ulah manusia serakahlah jika alam menjadi tidak bersahabat", tutupnya. (!)

Sabtu, 27 Oktober 2018

Menentukan Tegak Piodalan Pura



Jembrana (Wismaberita)

          Odalan atau Piodalan berasal dari kata Wedal atau Medal, sehingga pada hakikatnya bisa dikatakan sebagai peringatan hari kelahiran (hari jadi) untuk sebuah Pura, jika pada orang dikatakan Otonan, sebut saja seperti peringatan ulang tahun. Namun, jika ulang tahun kita diperingati berdasarkan perhitungan kalender (umumnya tanggal dan bulan).

Jro Mangku Suardana, salah seorang Pemangku Pura Dangkahyangan Rambutsiwi, Rabu (27/10) menjelaskan, Tegak Podalan untuk Pura/Kahyangan adalah hari untuk memperingati lahirnya dimana saat pertama kali Pura itu di Pelaspas yang hari baiknya paling tepat ditentukan berdasarkan perhitungan Wariga atau Wewaran terutama memadukan Sapta Wara dan Panca Wara serta Wuku, maka Odalan sebuah Pura akan jatuh setiap 210 hari atau 6 (enam) bulan sekali.

Selanjutnya, adanya perhitungan Sasih (bulan Bali), akan digunakan sebagai acuan dalam menentukan tingkatan Upakara dari Pidoalan tersebut.

Dicontohkan, semisal sebuah Piodalan Pura jatuh pada hari Anggara Kliwon wuku Kulantir, maka akan dilaksanakan Upacara Pidodalan di tingkat Pratama (Biasa/Nista). Namun jika Anggara Kliwon wuku Kulantir ini bertepatan dengan rahinan Tilem (bulan mati) maka Piodalan akan dilakukan pada tingkat Madya dan apabila Anggara Kliwon wuku Kulantir ini bertepatan dengan hari bulan Puranama maka akan dilaksanakan Piodalan di tingkat Utama (Jelih).

"Terkadang ada fenomena, dimana umat menetapkan Piodalan berdasarkan Sasih (bulan Bali), biasanya seperti pada Punama Kapat atau Puranama Kadasa, dan sebagianya. Ini adalah sah-sah saja. Namun karena Purnama biasanya digunakan sebagai perhitungan dalam menentukan tingkatan Jelih atau tidaknya sebuah Piodalan. Maka jika kita menentukan Piodalan menggunakan perhitungan Sasih yakni menetapkan Piodalan pada hari Purnama, setidaknya kita memiliki konsekwensi harus mampu selalu akan melaksanakan Piodalan Jelih", jelasnya. (!)

Kendaraan Tepatnya Diupacarai Saat Tumpek Kuningan Bukan Tumpek Landep



Jembrana (Wismaberita)

     Umat Hindu di Bali, meyakini Tuhan memiliki berbagai manifestasi yang dikenal dengan nama Dewa. Hal inilah diantaranya yang membuat hingga Bali dikenal dengan sebutan Pulau Dewata.

Bali juga disebut Pulau Sorga karena diantaranya memiliki berbagai keindahan, sehingga menjadi destinasi wisata dunia, dimana tempat-tempat indahnya sungguh dijadikan agenda kunjungan dalam perjalanan tour bahkan wisata sepiritual karena yang tak kalah pentingnya Bali memiliki berbagai macam keunikan dalam adat dan budaya.

Umat di Bali yang mayoritas beragama Hindu, akan melaksanakan upacara persembahyangan berdasarkan perhitungan dan berpatokan pada sarana suci yang sering disebut dengan upakara, hari suci, tempat suci dan orang suci.

Adapun diantaranya, adalah dengan menggelar upacara pada hari atau rahinan Tumpek Landep.

Jro Mangku Suardana, salah seorang Pemangku Pura Dangkahyangan Rambutsiwi, Sabtu (27/10) mengatakan bahwa kata Tumpek sendiri berasal dari "Metu" yang artinya bertemu, dan "Mpek" yang artinya akhir, jadi Tumpek merupakan hari pertemuan wewaran Panca Wara dan Sapta Wara, dimana Panca Wara diakhiri oleh Kliwon dan Sapta Wara diakhiri oleh Saniscara (hari Sabtu). Sedangkan Landep sendiri berarti tajam atau runcing, maka dari ini diupacarai juga beberapa pusaka yang memiliki sifat tajam seperti keris. Dimana Tumpek Landep dirayakan setiap Sanisara Kliwon Wuku Landep.

Jadi dalam konteks filosofi, Tumpek Landep ini merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran). Dengan demikian, umat selalu berperilaku berdasarkan kejernihan pikiran dengan landasan nilai–nilai agama dan dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah serta memilih mana yang baik juga mana yang tidak baik.

Pada hari Tumpek Landep ini akan dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Siwa Pasupati. Dimana setelah mempertingati Hari Raya Saraswati sebagai perayaan turunya ilmu pengetahuan, tentunya setelah itu umat memohonkan agar ilmu pengetahuan tersebut bertuah atau mendapatkan ketajaman pikiran dan hati.

"Saat hari Tumpek Landep ini dilakukan upacara pembersihan dan penyucian aneka pusaka leluhur seperti keris, tombak dan sebagainya sehingga masyarakat awam sering menyebut Tumpek Landep sebagai otonan Keris. Namun, seiring perkembangan zaman, makna Tumpek Landep ini menjadi semakin bias dan kian menyimpang dari makna sesungguhnya. Dimana saat ini, masyarakat justru memaknai Tumpek Landep lebih sebagai upacara untuk motor, mobil serta peralatan kerja dari besi. Sesungguhnya ini sangat jauh menyimpang. Sah-sah saja pada rainan Tumpek Landep ini melakukan upacara terhadap motor, mobil dan peralatan kerja namun jangan melupakan inti dari pelaksanaan Tumpek Landep itu sendiri yang lebih menitik beratkan agar umat selalu ingat untuk mengasah pikiran (manah), budhi dan citta. Dengan manah, budhi dan citta yang tajam diharapkan umat dapat memerangi kebodohan, kegelapan dan kesengsaraan. Ritual Tumpek Landep ini sesungguhnya mengingatkan umat untuk selalu menajamkan manah sehingga mampu menekan perilaku buthakala yang ada di dalam diri". jelasnya.

Menurutnya, jika menilik pada makna rerainan, sesungguhnya upacara terhadap motor, mobil ataupun peralatan kerja lebih tepat dilaksanakan pada hari atau rahinan Tumpek Kuningan, yaitu sebagai ucapan syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas sarana dan prasara sehingga memudahkan aktifitas umat, serta memohon agar perabotan tersebut dapat berfungsi dengan baik dan tidak mencelakakan. Tumpek landep adalah tonggak untuk mulat sarira / introspeksi diri untuk memperbaiki karakter agar sesuai dengan ajaran-ajaran agama. Inilah mengapa saat rainan Tumpek Landep ini dilakukan pembersihan dan penyucian pusaka warisan leluhur. Disamping itu, umat hendaknya melakukan persembahyangan di sanggah/ merajan serta di pura, guna memohon anugraha dari Dwa Siwa sebagai Ida Sang Hyang Pasupati agar berkenan memberi ketajaman pikiran sehingga dapat menjadi orang yang berguna bagi keluarga dan juga masyarakat.

Bagi para seniman, Tumpek landep dirayakan sebagai pemujaan untuk memohon Taksu agar kesenian menjadi lebih berkembang, memperoleh apresiasi dari masyarakat serta mampu menyampaikan pesan-pesan moral guna mendidik dan mencerdaskan umat.

"Maka sekali lagi ditegaskan, Tumpek Landep bukan rerainan untuk mengupacarai motor, mobil ataupun perabotan besi, tetapi lebih menekankan kepada kesadaran untuk selalu mengasah pikiran (manah), budhi dan citta untuk kesejahteraan umat manusia. Boleh saja pada rerainan Tumpek Landep mengupacarai motor, mobil dan sebagainya sebagai bentuk syukur namun itu adalah nilai tambahan saja, karena yang tidak bersyukur itulah sejatinya yang keliru atau salah. Akan tetapi, jangan sampai perayaan rerainan menitik beratkan pada nilai tambahan namun melupakan inti pokok dari rerainan tersebut", tegasnya. (!)

Sabtu, 16 Desember 2017

TNI Bantu Bangun Jamban Untuk Warga Tidak Mampu Penderita Stroke




Jembrana (Wismaberita) - Jajaran Kodim 1617/Jembrana terus berupaya membantu pembuatan jamban untuk warga tidak mampu di wilayahnya.

Mashuri (70) penderita penyakit stroke yang merupakan salah seorang warga miskin di Dusun Kembang Desa Cupel, Kecamatan Negara mengaku sangat bersyukur dan berterimakasih karena telah dibantu pembangunan jamban oleh Koramil 1617-01/Negara.

Setelah rampung dalam pembangunannya, Sabtu (17/12) langsung diserahterimakan oleh Batuud Koramil 01/Negara Peltu I Ketut Sarma seizin Pjs. Danramil 1617-01/Negara Kapten Inf I Nyoman Gede Andika, SH diterima Fathiah (65) istri Mashuri.

Dalam keseharian Mashuri hanya bisa terbaring di tempat tidur dirawat oleh istrinya. Karena suami istri ini tidak lagi bekerja kehidupan mereka dibantu oleh anak-anaknya yang juga tidak mampu.

Pembangunan jamban ini dikerjakan secara swadaya oleh jajaran Kodim 1617/Jembrana yakni Koramil 1617-01/Negara.

Dandim 1617/Jembrana, Letkol Kav Djefri Marsono Hanok mengatakan jambanisasi yang diselenggarakan oleh Koramil 1617-01/Negara merupakan program satuan dalam membantu pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan sarana/prasarana dan fasilitas umum terutama pembuatan jamban keluarga bagi keluarga miskin.

"Hal ini adalah untuk menciptakan sanitasi lingkungan yang sehat, bersih, aman dan nyaman guna miningkatkan  kesehatan dan kesejahteraan masyarakat serta memantapkan kemanunggalan TNI dengan rakyat. Kami juga sudah mengingatkan anggota untuk memulai disiplin dari diri sendiri. Memperhatikan lingkungan sekitar terlebih dahulu dan kesejahteraan keluarga sehingga kita bisa berbuat maksimal untuk masyarakat. Karena dalam jiwa kita yang tenang dan sehat kita bisa mengabdi untuk masyarakat lebih baik lagi," ungkap Dandim.

Menurutnya, semangat pengabdian dan kemanunggalan TNI bersama rakyat katanya harus terus dipupuk. (JMS)

Sabtu, 02 Desember 2017

Bagamaina Jika Hari Raya Saraswati Dan Lainnya Bersamaan Dengan Nyepi



Jembrana (Wismaberita) - Bali yang dikenal sebagai Pulau Dewata memiliki banyak sekali aturan-aturan baik dalam menjalankan tradisi ataupun budaya. Inilah yang membuat Bali menjadi unik bahkan hingga terkenal di Manca Negara karena dihadapkan hal ini, umat tetap santun dalam pelaksanaannya. Salah satunya, Bali mengenal banyak hari raya yang dikenal dengan istilah rahinan, diantaranya ada hari raya Galungan dan Kuningan, hari raya Pagerwesi, hari raya Saraswati, hari raya Siwaratri dan seterusnya.

Dalam pelaksanaan hari raya layaknya yang juga dilakukan oleh umat lain, pada intinya semua akan melaksanakan hari raya ini dengan nuasa keramaian. Hingga menjadi hal berbeda khususnya dengan pelaksanaan hari raya Nyepi.

Mengapa demikian, karena hari raya Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi ini sebenarnya merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender Caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Namun, dalam pelaksanaan Nyepi ini tidak seperti perayaan tahun baru Masehi. Dimana, tahun baru Caka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktifitas seperti biasa, karena umat harus melaksanakan Catur Bratha Penyepian, diantaranya amati gni (tidak menyalakan api atau amarah), amati lelungan (tidak bepergian), amati lelanguan (tidak melalukan pesta atau kemeriahan = berupasa) dan amati karya (tidak bekerja). Hingga semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, bahkan seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, mungkin terkecuali untuk Rumah Sakit.

Lalu bagaimana jika kebetulan pelaksanaan hari raya yang umumnya dilakukan dengan kemeriahan seperti di atas apabila berbenturan dengan pelaksanaan hari raya Nyepi.

Hal inilah yang terkadang membuat kebingungan bagi sebagian umat Hindu di Bali.

Jro Mangku Suardana yang akrab dipanggil Jro Mangku Suar, Sabtu (2/12) di sela-sela aktifitasnya memimpin persembahyangan umat sebagai salah seorang Pemangku di Pura Dangkahyangan Rambutsiwi menjelaskan, terjadinya benturan atau pelaksanaan hari raya seperti hari raya dijelaskan di atas jatuhnya bisa bersamaan dengan pelaksanaan Nyepi, ini adalah karena penetapan hari raya bagi umat Hindu di Bali didasarkan atas beberapa perhitungan yang mengacu pada Wariga. Yakni, ada perhitungan jatuhnya hari raya yang menggunakan wewaran (harian), juga ada yang menggunakan pawukon atau wuku (mingguan), ada yang hitungan atas pananggal/pangelong (lima belas harian) dan juga ada yang menggunakan perhitungan sasih (bulan) bahkan ada hitungan yang menggunakan dawuh (waktu/jam).

Menurutnya, umat tidak harus bingung ketika menghadapi atau melaksanakan hari raya seperti dijelaskan di atas jika jatuhnya bersamaan dengan hari raya Nyepi. Seperti misalnya, hari raya Saraswati yang nantinya jatuh pada hari Sabtu tanggal 17 Maret 2018 kebetulan bersamaan dengan pelaksanaan hari raya Nyepi. "Ini kan tinggal diaksioma, yang biasa disebut dengan Alahing Sasih yakni Wewaran alah dening Wuku, Wuku alah dening Pananggal/Panglong, Pananggal/Panglong alah dening Sasih, Sasih alah dening Dauh, Dauh alah dening Sang Hyang Triodasa Saksi. Sekarang tinggal realisasi, bahwa hari raya Saraswati jatuh berdasarkan Wuku sementara Nyepi berdasarkan Sasih, jelas hari raya Saraswati tidak harus dirayakan karena pada prinsipnya dalam Wariga perhitungan Wuku alah dening Sasih dan ini berlaku untuk semua rerahinan yang berbenturan, jelasnya gunakan aksioma Alahing Sasih ini. Hingga rasanya tidak dipandang perlu harus berisi parum (rapat) begini begitu lagi, apalagi sampai menggelar pesamuhan karena apanya yang harus diruwetkan lagi sebab uger-uger (peraturan) itu sudah dibuat serta oleh para lelangit (leluhur) Bali", jelasnya.

Ditambahkannya, uger-uger (peraturan) ini sudah berjalan sejak ratusan tahun silam. Disini para lelangit (leluhur) kita tidak pernah ruwet menjalankan hal ini, sebab sebelum berucap dan bertindak pastinya beliau-beliau sudah berpikir terlebih dahulu sebelum mengambil sikap atau keputusan agar para generasinya tetap bisa dengan solid melaksanakan apa yang telah dipakemkan. "Hingga terkait rerahinan, beliau juga sudah membuat penentuan padewasan seperti apa yang telah ditetapkan menurut sebagian besar dalam teks Wariga", imbuhnya.

Jro Mangku Suar yang juga masih aktif sebagai anggota TNI dan hingga sekarang berdinas di Timintel Korem 163/Wirasatya ini juga mengingatkan pentingnya hidup saling menghargai guna dapat senantiasa melestarikan tradisi, seni maupun budaya, dengan hidup berbhineka karena di era globalisasi ini manusia akan dihadapkan pada sisi kehidupan yang semakin kompleks, demi Ajeg Bali hingga di masa depan nanti. (Arn)

Rabu, 20 September 2017

Tinjau Objek Gugatan, Hakim Gelar Sidang Sengketa Villa



Jembrana (Wismaberita) - Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Negara kembali melanjutkan sidang gugatan perdata atas villa Kelapa Retreat II di Pekutatan, Negara, Bali. Kali ini, majelis hakim yang dipimpin oleh hakim ketua Fakhrudin Said Ngaji menggelar sidang di lokasi objek gugatan yang diajukan oleh Yenny Sunaryo, korban penipuan investasi vila tersebut. 

"Untuk melihat langsung objek gugatan yang diajukan oleh pihak penggugat," ujar Fakhrudin di Kelapa Retreat II, Pekutatan, Selasa (19/9).

Sebelumnya gugatan ini berawal dari penipuan investasi yang menjerat Gordon Gilbert Hild, warga negara Jerman, dan istrinya warga Lampung, Ismayanti. Keduanya dianggap menipu korbannya Yenny Sunaryo dengan mengajukan proposal pembuatan vila Kelapa Retreat II. Nilai investasi yang ditawarkan mencapai Rp 8,5 miliar dalam berbentuk pembagian saham dengan butir-butir kesepakatan tertentu.

Namun belakangan Gordon dan Ismayanti dianggap lalai dalam mengelola uang investasi tersebut. Keduanya bahkan kedapatan menggunakan uang investasi tersebut untuk membeli rumah di Selandia Baru. Kini, Gordon dan Ismayanti pun sudah berstatus terpidana karena sudah divonis oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan bersalah melanggar Pasal 378 KUHP tentang Penipuan dan Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan.

Adapun proses sidang di PN Negara kali ini pun dimulai dengan majelis hakim meminta masing-masing pihak untuk memberikan penjelasan awal mengenai objek sengketa. Setelah itu, materi sidang dilanjutkan dengan melihat langsung objek-objek yang masuk ke dalam materi gugatan. "Silakan pihak penggugat dan tergugat memberikan gambaran seputar lokasi yang dimaksud menurut penilaian masing-masing," ujar Fakhrudin.


Dalam sidang tinjauan tersebut, kuasa hukum Yenny, Ketut Jaya, dan kuasa hukum tergugat yang diwakili Lembaga Hukum Humanis sama-sama memberikan penjelasan kepada majelis hakim. Majelis hakim pun berpendapat bahwa hampir sebagian besar objek yang ditunjukan kedua pihak hampir sama. Hanya ada satu ruas bangunan yang ditafsirkan secara berbeda oleh kedua pihak.

Pihak penggugat menafsirkan bagunan tersebut masuk ke dalam objek gugatan. Namun pihak tergugat menyebut bangunan itu merupakan bagian dari vila Kepala Retreat I yang tidak termasuk objek sengketa. "Nanti biar majelis hakim yang memutuskan," kata hakim Fakhrudin.

Adapun menurut Ketut, tinjauan itu juga sekaligus membuat majelis hakim bisa melihat langsung penipuan yang dilakukan oleh Gordon dan Ismayanti. Sebab, dalam tinjauan itu cuma terdapat 16 bangunan yang selesai dibangun. Padahal, kedua terpidana yang berstatus sebagai pemilik menjanjikan ada 18 bangunan yang akan berdiri. "Jadi sudah dilihat langsung oleh majelis," ujar Ketut.

Dia pun menyebut gugatan perdata atas vila Kelapa Retreat 2 ini sebagai upaya kliennya untuk mendapatkan ganti rugi karena sudah rugi Rp 8,5 miliar. Apalagi, kedua terpidana juga dianggap tidak memiliki itikad baik untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Bahkan, Gordon dan Ismayanti secara sepihak telah memutus kerja sama dengan Yenny tanpa penjelasan apapun.

"Karena klien kami jelas sudah sangat dirugikan, dan gugatan ini murni adalah langkah agar keadilan dapat ditegakkan dan klien kami bisa mendapatkan haknya," ujar Ketut.

Sidang kasus gugatan kepemilikan vila Kelapa Retreat 2 pun akhirnya ditunda oleh majelis hakim. Sidang dengan majelis hakim Fakhrudin, Moh. Hasanuddin Hefni, dan Alfan Kurniawan itu rencananya akan dilanjutkan dengan tinjauan objek sengketa kedua yang berada di kawasan Tabanan, Bali. Namun PN Negara masih berkoordinasi dengan PN Tabanan untuk menggelar sidang tinjauan objek tersebut. (J&D)

Senin, 08 Mei 2017

Pelestarian Tarian Sakral Juga Bahas Tentang Tatwa Liak



Negara (Wisma Berita) –

         Sejumlah kecelakaan saat ngenying dalam tarian Rangda belakangan sering terjadi. Teranyar di Tabanan belum lama ini. Termasuk di Jembrana, tahun lalu hal serupa saat pementasan di salah satu desa di Kecamatan Mendoyo. Agar kejadian seperti itu tidak terulang, sejumlah pragina (penari) Rangda, penggiat seni sakral dan desa pakraman akhir pekan lalu mengikuti workshop yang difasilitasi Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Jembrana, Sabtu (6/5) di wantilan Pura Puseh, Desa Pakraman Baler Bale Agung, Kecamatan Negara. Salah satu Tarian Sakral ini hendaknya tetap dilestarikan dengan menjaga agar tetap sakral dan hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi. Termasuk tari-tari yang lain seperti tari Rejang, Baris, Topeng Sidakarya dan lainnya.

Uniknya selain memaparkan tentang Tarian Sakral, juga dibahas tentang Tatwa Liak yang erat kaitannya dengan tarian sakral Rangda itu. Salah seorang Narasumber, Jro Mangku Suardana yakni Pemangku Pura Tirtha Lan Segara Dangkahyangan Rambutsiwi memaparkan, bila mengacu pada aksara-aksara suci Hindu serta kisah-kisah yang menjadi legenda turunnya Ilmu Liak seperti yang apa disuratkan pada beberapa lontar yang merupakan warisan adi luhung dari para lelangit (leluhur) kita sebagai dasar sastra agama dan budaya Hindu khususnya di Bali, tidaklah ditemukan adanya makna aksara berarti LEAK dan yang ada adalah kata LIAK. Menurutnya, kata LIAK disini merupakan rangkaian dari 2 suku kata yakni "Li" dan "Ak" yang merupakan singkatan dari Lingga Aksara, yang mana Lingga berarti Tempat dan Aksara berarti Huruf. Adapun aksara atau huruf yang dimaksud disini adalah Dasa Aksara yakni 10 aksara suci yang merupakan simbul kekuatan (sakti) dari 10 Dewa sebagai manifestiasi dari Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) dalam upaya menjaga keseimbangan semesta dari segala penjuru alam (Pengider Bhuana) yang di Bali dikenal dengan Dewata Nawa Sanga. Maka menurutnya ajaran Liak adalah ajaran kerohanian bersumber dari Bali yang bertujuan untuk mencari pencerahan lewat aksara suci, yaitu menempatkan dengan cara memasukkan dan mengeluarkan kekuatan aksara dalam tubuh melalui tata cara tertentu. Kekuatan aksara ini disebut Panca Gni Aksara dan siapapun manusia yang mempelajari kerohanian (dalam merk apapun) apabila mencapai puncaknya dia pasti akan mengeluarkan cahaya (aura). Cahaya ini bisa keluar melalui lima pintu indra tubuh, yakni  telinga, mata, mulut, ubun-ubun, serta kemaluan. “Sehingga apabila kita melihat orang Ngelekas atau yang dikenal dengan istilah Meraga Sukma di kuburan atau tempat sepi, api seolah-olah membakar orang tersebut dan api atau cahaya inilah yang lazim disebut Endihan yang sebenarnya tidak perlu ditakuti (bersikaplah sewajarnya),” terangnya. Sebab bukanlah seperti api yang bisa digunakan masak, melainkan adalah aura. Namun, selama ini ajaran Liak selalu dikambinghitamkan padahal pada prinsipnya ajaran Liak (Pangeliakan) tidak mempelajari bagaimana cara menyakiti orang, dimana yang menyakiti adalah orangnya (oknumnya) ketika mereka telah menguasai ilmu apapun yang dimilikinya saat mengaplikasikannya dalam sebuah tindakan menjadi aliran kiri (Pangiwa). Disnilah letak permasalahannya, hingga sampai saat ini ajaran Liak selalu sudutkan hanya pada ranah kejahatan saja.

Ida Pandhita Mpu Nabe Bhaskara menyambut positif adanya workshop termasuk membahas terkait liak ini. Menurutnya, ajaran Liak yang sesungguhnya merupakan warisan adiluhung dari para Lelangit Bali ini sudah sepatutnya dilestarikan dan menjadi kewajiban kita sebagai umat untuk mengangkat derajat ajaran Liak ini dari keterpurukan pencitraan selama ini. Namun demikian, Ida Pandita Mpu Nabe dari geriya Madhusudana, Baler Bale Agung ini mewanti-wanti berpesan agar siapa saja hendaknya selalu menggunakan ajaran apapun yang dikuasainya adalah untuk kebaikan, agar umat senantiasa rahayu dan jagadhita, karena baik dan buruk prilaku seseorang tidak akan terlepas dari karmaphala.

Sementara itu, Jro Mangku Nadiasa salah seorang peserta workshop mengaku sangat antusias mengikuti acara yang tersebut dan berharap kedepan kegiatan serupa lebih sering digelar hingga pemahaman tentang kesujatian ajaran Liak yang sesunggunya ajaran kerohanian ini dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat sehingga tidak lagi didiskritkan dan disalahgunakan.

Kasi Urusan Agama Hindu, Kantor Kemenag Jembrana, Ida Bagus Rimbawan mengatakan esensi digelarnya workshop yang salah satunya membahas tentang Liak ini sejatinya untuk memberikan para penggiat seni tari sakral di Jembrana dan desa pakraman lebih menekuni dan mendalami tarian. Liak merupakan salah satu hal yang berkaitan erat dengan tarian Rangda. "Agar tidak sampai kejadian seperti sebelum-sebelumnya terulang," terangnya. (JMS)

Minggu, 12 Februari 2017

Fenomena Mistis Di Balik Banjir Bandang


Jembrana (Wisma Berita)

Hujan deras yang terjadi, Sabtu (11/2) sejak sore hari membawa bencana di wilayah Kabupaten Jembrana. Banyak rumah, hewan ternak bahkan kendaraan seperti mobil dan sepeda motor yang tergerus banjir bandang.

Namun, ada cerita mistis di balik terjadinya banjir bandang. Jro Mangku Suardana, Pemangku Pura Tirtha & Segara Dangkahyangan Luhur Rambutsiwi yang juga seorang anggota TNI aktif berpangkat Serma berdinas di Kodim 1617/Jembrana memaparkan, sekira pukul 22.00 Wita dirinya bersama istri, Jro Mangku Sudiariani selesai ngayah Pemangku (memimpin persembahyangan umat) di Pura Tirtha & Segara Dangkahyangan Luhur Rambutsiwi kemudian hendak pulang ke rumah yang beralamat di Lingkungan Samblong, Kelurahan Samblong, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana.

"Setiba di utara jembatan Desa Yeh Kuning saya terjebak banjir bandang yang meluber melintas di atas jalan. Awalnya air hanya setinggi kira-kira 20 cm namun berikut secara cepat mencapai ketinggian 80 cm dengan kecepatan air sekira 20 km/jam melewati persawahan karena jembatan tersumbat sampah kiriman. Tiba-tiba saya melihat batang pohon dengan lingkar sekira 3 meteran panjang hampir 13 meter hanyut terbawa arus banjir bandang mengarah ke sungai Samblong yang bermuara di laut Perancak. Menyadari batang pohon itu akan segera melintasi posisi kami, kemudian sepeda motor saya standar di tempat selanjutnya saya beserta istri sambil terus berdoa (mengucapkan mantram Om Namasiwaya) berupaya menghindari batang pohon tersebut untuk menyelamatkan diri hingga akhirnya batang pohon itu menggerus sepeda motor Honda Beat warna Putih Nopol DK 5509 ZO dan hanyut sampai 50 meter ke dalam persawahan yang dilintasi banjir bandang. Akan tetapi setelah saya perhatikan, dengan jelas di bawah temaram suasana bulan Purnama ternyata batang pohon tersebut sempat menggeliat dan bersisik seperti seekor ular sanca yang sangat besar serta agak bersinar terkena cahaya bulan Purnama. Rasanya kecil kemungkinan kami bisa selamat dari kejadian itu, hingga kami berkeyakinan mungkin kami hanya diamanahkan untuk menyaksikan kejadian aneh tersebut dan kami bersyukur bisa selamat. Sampai saat ini istri saya masih shock menyaksikan misteri kejanggalan dalam musibah yang terjadi tersebut. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam upaya-upaya penyelamatan terhadap bencana banjir yang terjadi di wilayah Kabupaten Jembrana, hingga tadi pagi sepeda motor kami baru bisa dievakuasi oleh Tim SAR Kabupaten Jembrana. Kami sendiri belum bisa berpikir benda aneh apa sebenarnya yang melintas itu. Mungkinkah itu seekor Naga Tapa yang bangkit dan akan menuju samudera setelah ribuan tahun dari pertapaannya, seperti yang ada dalam legenda atau mitos-mitos para tetua nusantara kita dahulu. Banyak pertanyaan akhirnya melintas dalam benak, yang jelas saya bersyukur karena pastinya tidak sembarang orang yang bisa menyaksikannya", jelas Jro Mangku Suardana.

Sementara Lurah Sangkaragung, I Nyoman Gede Suardana membenarkan kejadian tersebut dan hingga saat ini pihaknya bersama Tim SAR dan pihak Pemkab Jembrana masih melakukan pendataan terhadap korban material dan beruntung sampai saat ini tidak ada laporan korban jiwa. (JMS)

Sabtu, 04 Februari 2017

Tumpek Landep, Kodim Gelar Ritual Pesucian Senjata Dan Randis


Jembrana (Wisma Berita)

Dalam rangka perayaan hari Tumpek Landep, Sabtu (4/2) pagi Kodim 1617/Jembrana menggelar ritual terhadap material yang terbuat dari bahan yang mengandung unsur  baja, besi dan logam.

Terkait hal ini, beberapa senjata diantaranya laras panjang jenis M16 A1 dan pistol P-1 beserta kendaraan, tampak dijejer di lapangan Kodim 1617/Jembrana guna dilakukan penyucian dengan ritual khusus.

"Ritual ini dilakukan adalah untuk memohon keselamatan karena senjata tersebut memberikan perlindungan terhadap pemakai, khususnya umat Hindu di Kodim 1617/Jembrana karena setiap benda yang dibuat dari bahan logam memiliki unsur yang diyakini dapat berpengaruh bagi penggunanya, sehingga melalui ritual ini diharapkan dapat memberikan pengaruh yang baik", jelas Pemangku Kodim 1617/Jembrana.

Hari raya Tumpek Landep sendiri merupakan rangkaian setelah hari raya Saraswati, dimana pada hari ini umat Hindu melakukan puji syukur atas berkah yang telah diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Ida Bhatara Sang Hyang Pasupati.

Perbedaan hari raya Saraswati dengan hari raya Tumpek Landep adalah dimana pada saat hari Saraswati umat hindu melakukan puji syukur atas turunnya ilmu pengetahuan yang diimplementasikan dengan mengupacari berbagai sumber-sumber ilmu pengetahuan, seperti buku, lontar, prasasti dan berbagai sumber-sumber sastra dan ilmu pengetahuan lainnya, sedangkan pada hari raya Tumpek Landep lebih mengucapkan puji syukur kepada Ida Bhatara Sang Hyang Pasupati yang telah menganugrahi kecerdasan dan ketajaman pikiran kepada manusia yang mana dari pikiran-pikiran  tersebut melahirkan daya cipta rasa dan karsa manusia dalam menciptakan sesuatu (output) yang dapat mempermudah kehidupannya untuk mencapai kebahagiaan.

Hari raya Tumpek Landep jatuh setiap Saniscara (hari Sabtu) pancawara Kliwon wuku Landep, sehingga secara perhitungan kalender Bali, hari raya ini dirayakan setiap 210 hari sekali. Kata Tumpek sendiri berasal dari “Metu” yang artinya bertemu, dan “Mpek” yang artinya akhir, jadi Tumpek merupakan hari pertemuan wewaran Panca Wara dan Sapta Wara, dimana Panca Wara diakhiri oleh Kliwon dan Sapta Wara diakhiri oleh Saniscara (hari Sabtu). Sedangkan Landep sendiri berarti tajam atau runcing, maka dari ini diupacarai juga beberapa pusaka yang memiliki sifat tajam seperti keris.

Dalam perkembangan zaman dan teknologi, perayaan hari raya Tumpek Landep tidak hanya mengupacarai benda-benda sakral/pusaka seperti keris dan peralatan persenjataan, melainkan juga benda-benda lain yang memiliki manfaat positif yang memberikan kemudahan dalam segala aktivitas dan kehidupan manusia. Adapun benda-benda tambahan yang juga sering kita lihat diupacarai para hari tumpek landep ini antara lain : motor, mobil, sepeda, computer, laptop, mesin pabrik, dan benda-benda lainnya.

Bagi umat hindu di Bali, senjata yang paling utama dalam kehidupan ini adalah pikiran, karena pikiranlah yang mengendalikan semuanya yang ada. Semua yang baik dan yang buruk dimulai dari pikiran, maka dari itu dalam perayaan hari Tumpek Landep ini kita diharapkan agar senantiasa menajamkan pikiran lewat kecerdasan dan mengendalikan pikiran lewat norma-norma agama dan budaya.

Begitu tingginya filosofi orang-orang Bali yang sangat memaknai segala sesuatu yang ada di dalam kehidupannya. Ini juga yang membuat Bali dikenal sangat unik dan eksotis bagi orang-orang yang pernah mengunjunginya. Hendaknya budaya-budaya nusantara seperti inilah yang sepatutnya kita lestarikan sebagai bentuk warisan para leluhur, yang menunujukkan jati diri dan karakter bangsa di tanah Nusantara.

Semoga segala pikiran yang baik datang dari segala penjuru. (JMS)

Rabu, 01 Februari 2017

TNI dan Relawan Bangun Jamban Untuk Nenek Buta


Mendoyo (Wisma Berita)

Jajaran Koramil 1617-02/Mendoyo bersama KRJ (Komunitas Relawan Jembrana), Rabu (1/2) bersinergi membangun kamar mandi dan dapur untuk Nenek bernana Ni Wayan Ceken (90) yang akrab dipanggil Dadong Letung yang mengalami kebutaan dan tidak mendengar sudah sejak puluhan tahun.

Peletakan batu pertama pembangunan kamar mandi dan dapur dari nenek kurang mampu ini dihadiri Babinsa Pohsanten Sertu I Gusti Ketut Dena dan sejumlah anggota Koramil 1617-02/Mendoyo serta tim relawan kemanusiaan dari KRJ.

I Made Budra, anak dari Dadong Letung hanya seorang petani yang kerap menjadi buruh menanam semangka, sehingga pendapatannya juga tidak menentu mengaku bersyukur dan sangat berterimakasih atas bantuan yang diterimanya.

Menurut Sekretaris KRJ, Eddy Bali Suprianto dan Koordinator KRJ, P Witari, dimana pembangunan kamar mandi dan dapur di Dadong Letung dilakukan berkat bantuan dari para donatur yang dihimpun relawan, sementara pengerjaan dilakukan secara swadaya dan gotong royong bersama TNI dan masyarakat sekitar.

Bantuan kamar mandi dan dapur ini diharapkan dapat bermanfaat serta dengan program jambanisasi sinergi TNI dan relawan kemanusiaan ini bisa meningkatkan kesadaran masyarakat akan sanitasi lingkungan. "Selama ini mereka buang air di halaman atau kebun. Mandi juga di samping sumur atau ruangan darurat. Jika sudah ada jamban/kamar mandi mereka tentu lebih sehat dan bersih," jelas Eddy.

Sementara itu, Danramil 1617-02/Mendoyo, Lettu Inf M. Zaenul Ekhsan saat dikonfirmasi mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan program sinergisitas jambanisasi TNI dengan KRJ. Dengan bersinegi bersama relawan kemanusiaan ini pihaknya berharap makin banyak warga yang akan dapat terbantu. (JMS)

Rabu, 18 Januari 2017

Jaga Keamanan, Bhabinkamtibmas, Babinsa dan Pecalang Ikuti Sosialisasi Radikalisme dan Intoleransi


Jembrana (Wisma Berita)

Urusan keamanan dan ketertiban masyarakat memang menjadi prioritas utama bagi aparat keamanan. Hal ini terlihat, dimana para aparat keamanan yakni Polres Jembrana bersinergi dengan Kodim 1617/Jembrana serta unsur keamananan adat (Pecalang), Rabu (18/1) pagi menggelar sosialisasi Radikalisme dan Intoleransi dalam rangka menciptakan Kamtibmas yang kondusif di Kabupaten Jembrana.

Dalam sosialisasi diselenggarakan di aula Polres Jembrana ini diikuti oleh seluruh Kanit Intel, Kanit Binmas Polres dan Polsek, Bhabinkamtibmas jajaran Polres Jembrana, Babinsa dari Kodim 1617/Jembrana dan Pecalang.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Kapolres Jembrana AKBP Djoni Widodo, diwakili oleh Kabag Sumda Kompol Made Prihenjagat dan dihadiri oleh Danramil Pekutatan Kapten Inf Karyanto mewakili Dandim 1617/Jembrana.

Hadir sebagai pemberi materi sosialisasi diantaranya Kasat Intel Polres Jembrana AKP I Made Berata, SH dengan materi sosialisasi meliputi, pengertian toleransi dan intoleransi, dasar-dasar toleransi, faktor-faktor yang mempengaruhi intoleransi serta bentuk sikap intoleransi.

Sementara pembicara kedua disampaikan oleh Pasi Intel Kodim 1617 Jembrana Kapten I Nym Andika, SH, MM dengan materi sosialisasi meliputi empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI serta melakukan kegiatan bersama-sama untuk menjaga keamanan.

Sedangkan pembicara ketiga menghadirkan Kasat Binmas Polres Jembrana AKP DR I Ketut Suastika, SH. M.Hum membawakan materi paham radikalisme, meliputi tujuan paham radikalisme, latar belakang radikalisme, ciri-ciri paham radikalisme, ciri-ciri faham ekstrim dan cara-cara mencegah paham radikalisme/ terorisme.

Seluruh anggota baik TNI dan Polri yang mengikuti giat sosialisasi tersebut nampak serius dan antosias menyimak materi yang disampaikan ke tiga pembicara, meskipun suasanya di salam aula agak panas.

Usai kegiatan, Kapolres Jembrana AKBP Djoni Widodo melalui Kabag Sumda Kompol Made Prihenjagat mengatakan, kegiatan sosialisasi terbut dilaksanakan untuk menumbuhkan daya cegah dan tangkal dilapisan masyarakat Jembrana terhadap paham Radikal dan Intolerasi.

"Dengan digelarnya kegiatan ini, diharapkan situasi Kamtibmas di wilayah Kabupaten Jembrana tetap dalam keadaan kondusif yang mana setiap warga masyarakat juga diharapkan dapat berperan aktif untuk melaporkan apabila menemukan ada gejala atau indikasi penyebaran paham radikal serta intoleransi di wilayah Kabupaten Jembrana dan sesegera mungkin bisa dilaporkan kepada aparat berwajib dalam hal ini Bhabinkamtibmas dan Babinsa agar cepat mengambil langkah lebih lanjut,” terang Prihenjagat.
Lewat sosialisasi ini lanjut Prihenjagat juga meminta kepada para Bhabinkamtibmas dan Babinsa serta Pecalang bisa menularkan kepada masyarakat di wilayahnya sehingga tercipta Kamtibmas yang kondusif di Jembrana.

"Jika Jembrana Kantibmasnya kondusif merupakan cermin kondusifnya Bali mengingat Jembrana adalah pintu masuknya Bali melalui jalur darat. Kami tidak ingin kejadian Bom Bali 1 dan Bom Bali 2 terjadi lagi,” imbuh Prihenjagat.

Karena itu pihaknya senantiasa berharap kerjasama istansi terkait/stakeholder menjaga keamanan dan diharapkan kepekaannya terhadap kemungkinan masuknya paham Radikalisme dan Intolerasi sehingga Jembrana Kantibmas tetap kondusif. (JMS)

Selasa, 17 Januari 2017

Kodim Gelar Penyuluhan P4GN Dilanjutkan Tes Urine



Jembrana (Wisma Berita)

Seusai melaksanakan upacara Paripurna 17-an, Kodim 1617/Jembrana, Selasa (17/1) pagi langsung menggelar kegiatan penyuluhan Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) dipimpin oleh Kasdim 1617/Jembrana Mayor Inf Ngakan Made Marjana seizin Dandim 1617/Jembrana Letkol Kav Hendra Ferdinandus dan dilanjutkan dengan pelaksanaan tes urine terhadap seluruh anggota militer termasuk Koramil jajaran beserta PNS Kodim 1617/Jembrana dengan jumlah keseluruhan sekira 150 orang.

Dalam kegiatan yang disentralkan di Aula Kodim 1617/Jembrana tersebut, pihak Kodim 1617/Jembrana menghadirkan petugas dari RSUD Negara sebagai tim pemeriksa urine dari masing-masing anggota dan di lokasi pengambilan urine dijaga ketat oleh Proovost Kodim 1617/Jembrana serta diawasi langsung Kasdim 1617/Jembrana, Mayor Inf Ngakan Made Marjana didampingi Pasi Intel Kodim 1617/Jembrana, Kapten Inf I Nyoman Gede Andika.


Menurut Kasdim 1617/Jembrana, Mayor Inf Ngakan Made Marjana dimana pemeriksaan urine terhadap anggota ini digelar dalam kegiatan Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN).

"Pemeriksaan urine ini merupakan upaya dalam rangka mencegah, mencari, membasmi, dan membersihkan lingkungan TNI AD, khususnya Kodim 1617/Jembrana dari narkoba. Adapun sanksi tegas yang akan diterapkan nantinya kepada mereka yang terbukti dalam urusan narkoba dimana pimpinan TNI AD tidak segan memecat secara tidak hormat, karena ini sudah menjadi atensi dari pimpinan pusat dan harus dilaksanakan di daerah, jelas Kasdim 1617/Jembrana.



Sementara itu, Pasi Intel 1617/Jembrana, Kapten Inf I Nyoman Gede Andika mengatakan bahwa dari pemeriksaan terhadap seluruh anggota kali ini hasilnya semua negatif (-), namun demikian kedepan pihaknya berencana akan menggelar tes urine dadakan secara berkesinambungan, supaya tidak ada anggota Kodim yang berani mencuri kesempatan untuk mencoba barang haram tersebut. “Kami juga meminta dukungan dan peran serta dari masyarakat, agar segera melaporkan jika melihat dan mengetahui ada anggota TNI yang menggunakan narkoba", tutup Pasi Intel 1617/Jembrana seraya mengakhiri kegiatannya. (JMS)

Rabu, 28 Desember 2016

Pengamanan Tahun Baru, Dandim Sisir Kawasan Laut


Jembrana (Wisma Berita)

Dalam rangka pengamanan Tahun Baru dan menjaga stabilitas keamanan wilayah, Rabu (28/12), Dandim 1617/Jembrana, Letkol Kav Hendra Ferdinandus beserta jajaran menyisir kawasan laut Kabupaten Jembrana.

Dari pantauan redaksi, kegiatan penyisiran laut dilakukan dengan cara patroli menggunakan speed boat milik Taman Nasional Bali Barat (TNBB) sejak pagi hingga siang didampingi Danramil 1617-03/Melaya beserta 1 orang anggota dan 2 orang anggota Unit Inteldim 1617/Jembrana serta melibatkan beberapa pihak instansi terkait diantaranya Dansubdenpom IX/3-2 Negara beserta 1 anggota, 4 orang Staf dan Polisi Kehutanan Taman Nasional Bali Barat, 2 orang anggota Tim Intelrem 163/WSA, dan 1 orang anggota Pos Bekangdam IX/Udayana.

Patroli laut diawali dengan menyisir kawasan laut di Karang Sewu, Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya dan kemudian pantai-pantai lainnya hingga di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan di Desa Pengambengan, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana.


Tak hanya menyisir laut, Dandim 1617/Jembrana mengajak jajarannya untuk memeriksa sejumlah dermaga-dermaga tradisional yang ada di kawasan perairan laut wilayah Kabupaten Jembrana karena pihaknya menilai dermaga-dermaga tradisional ini berpotensi menjadi jalur alternatif bagi pihak-pihak yang ingin mengganggu keamanan, keselamatan dan ketertiban masyarakat (Kamseltibmas) saat perayaan pergantian tahun nanti.

Dari hasil konfirmasi, Dandim 1617/Jembrana, Letkol Kav. Hendra Ferdinandus mengatakan kegiatan ini merupakan kegiatan patroli gabungan TNI dan sejumlah pihak seperti Taman Nasional Bali Barat (TNBB) guna memantau keamanan di wilayah pesisir Jembrana terutama Gilimanuk dan sekitarnya yang dekat dengan pulau Jawa.

Menurutnya, Gilimanuk sebagai pintu masuk Bali Barat sangat rawan sebagai perlintasan kelompok-kelompok yang ingin mengacaukan Bali sehingga perlu diantisipasi dengan baik. Selain itu, pengawasan kawasan hutan di TNBB dan sekitarnya juga perlu diperketat agar kedepannya tidak terjadi aksi-aksi penyelundupan baik dari Jawa ke Bali maupun sebaliknya.

"Khususnya wilayah Kelurahan Gilimanuk memang menjadi prioritas keamanannya baik di darat maupun di lautnya. Tadi kita sisir dari kawasan laut di Gilimanuk hingga ke Pengambengan dan balik lagi ke Gilimanuk. Sejauh ini memang tidak kita temui adanya aktifitas-aktifitas mencurigakan di kawasan pesisir maupun di dermaga-dermaga tradisional yang diduga menjadi jalur tikus. Namun demikian, kegiatan ini akan kita langsungkan secara terus menerus bersama semua komponen untuk mengantisipasi adanya aksi-aksi penyusupan maupun penyelundupan," jelas Dandim Hendra. (JMS)

Sabtu, 24 Desember 2016

Menjelang Natal, Dandim Tinjau Langsung Pengamanan Gereja


Jembrana (Wisma Berita)

Sehari menjelang perayaan Natal tahun ini, Sabtu (24/12) Dandim 1617/Jembrana Letkol Kav Hendra Ferdinandus didampingi para Danramil jajaran dan Perwira Seksi Intelijen Kodim 1617/Jembrana, Kapten Inf I Nyoman Gede Andika melaksanakan kunjungan kerja dalam rangka mengecek langsung pengamanan di seluruh gereja yang ada di wilayah Kabupaten Jembrana.

Kunjungan tersebut dilakukan sebagai upaya atau langkah antisipasi segala kemungkinan terhadap hal-hal tidak diinginkan yang dapat saja terjadi, sehingga perayaan Natal dan Tahun Baru dapat berjalan aman dan kondusif.


Pengecekan keamanan dilakukan secara maraton diawali dari Gereja Santa Mari Ratu yang berlokasi di Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan yang merupakan gereja paling Timur di wilayah Kabupaten Jembrana, hingga gereja yang berada di Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya yang merupakan gereja paling Barat di wilayah Kabupaten Jembrana.

"Kabupaten Jembrana merupakan barometer karena merupakan salah satu pintu utama darat masuk Bali hingga menjadi mobilitas dari penduduk pendatang. Sedari itu kita wajib waspada terlebih menyikapi kejadian maupun isu-isu simpang siur yang berkembang akhir-akhir ini hingga dapat saja memicu segala kemungkinan buruk terjadi dan berdampak pada terganggunya stabilitas keamanan terutama saat suasana perayaan Natal dan Tahun Baru," jelas Dandim.


Pihaknya berharap, segenap pihak ikut menciptakan suasana aman karena urusan kemananan sejatinya bukan saja menjadi tugas dan tanggung jawab TNI melainkan adalah tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia.

Khususnya kepada para Babinsa yang merupakan ujung tombak TNI, diharapkan lebih berperan aktif dalam melakukan patroli keamanan dan mengecek setiap hal-hal mencurigakan serta senantiasa bersinergi dengan aparat keamanan terkait diantaranya Bhabinkamtibmas maupun unsur-unsur pengamanan adat diantaranya Pecalang dalam setiap pelaksanaan tugas di masing-masing wilayahnya. "Jangan lengah, cermati setiap perkembangan yang terjadi namun tetap dilakukan dengan hati-hati, jaga faktor keamanan baik personil maupun materiil dan gunakan body sistem," tegas Dandim.

Sementara itu, Chrystianto selaku Ketua Dewan Gereja Hati Kudus Yesus Palasari, di Desa Ekasari, Kecamatan Melaya yang merupakan gereja tertua di Kabupaten Jembrana menyambut baik kedatangan Dandim 1617/Jembrana beserta rombongan.

Seusai melaksanakan pengecekan keamanan gereja, Dandim melanjutkan kunjungannya ke PT. ASDP Gilimanuk guna melakukan koordinasi terkait sistem pengamanan dan mobilitasi pelabuhan dalam rangka perayaan Natal dan Tahun Baru. (JMS)

Jumat, 23 Desember 2016

Pelihara Stabilitas Keamanan Wilayah, Kodim Gelar Pembinaan Antisipasi Bahaya Radikalisme


Jembrana (Wisma Berita)

Guna tetap memelihara stabilitas keamanan wilayah, Jumat (23/12) siang Kodim 1617/Jembrana menggelar kegiatan pembinaan tentang antisipasi bahaya laten baik Komunis dan Paham Radikal.

Kegiatan dibuka oleh Dandim 1617/Jembrana, Letkol Kav Hendra Ferdinandus di Aula Makodim 1617/Jembrana dan diikuti jajaran anggota TNI yang berdinas di wilayah Kabupaten Jembrana berjumlah sekira 200 orang peserta, diantaranya Kasdim 1617/Jembrana Mayor Inf Ngakan Made Marjana S.Pd, para Perwira Staf Kodim 1617/Jembrana, para Danramil jajaran Kodim 1617/Jembrana, Kaminvetcad IX/23 Negara, beserta Anggota, Dansubdenpom IX/3-2 Negara, anggota Kipan C Yonif 900/Raider, anggota Yonif Mekanis 741/GN, Ketua dan anggota Pepabri Kabupaten Jembrana, para Bintara, dan Tamtama anggota Kodim 1617/Jembrana, PNS Kodim 1617/Jembrana, Ketua beserta anggota FKPPI Kabupaten Jembrana dan Persit KCK Cabang XXXVI Kodim 1617/ Jembrana beserta anggota.

Dandim 1617/Jembrana, Letkol Kav Hendra Ferdinandus dalam materinya memaparkan tentang perkembangan sejarah dan tindakan terhadap Kartai Komunis di Indonesia dan kepada segenap pihak ditekankan hendaknya selalu mewaspadai serta mengantisipasi berkembangnya ajaran komunisme dan paham radikal dimaksud di Indonesia. Adapun upaya antisipasi yang dilakukan selama ini diantaranya TNI tetap menyeleksi bagi setiap Calon Prajurit dari kemungkinan keterlibatan keluarganya sebagai exs PKI dan senantiasa melakukan sosialisasi Wawasan Kebangsaan (Wasbang) kepada masyarakat terkait pengaruh ajaran PKI.

Sementara itu, Kasdim 1617/Jembrana Mayor Inf Ngakan Made Marjana S.pd khusus menyampaikan materi tentang Wawasan Kebangsaan (Wasbang) terkait cara pandang bangsa Indonesia dalam mencapai tujuan nasional yang mencakup perwujudan kepulauan nusantara sebagai kesatuan ideologi, politik, sosial, budaya ekonomi dan pertahanan keamanan (Ipoleksosbudhankam).

Berikut materi tentang bangkitnya kembali Komunisme dan strategi menghadapinya, disampaikan oleh Pasi Logistik Kodim 1617/Jembrana, Kapten Inf Supena. Dalam materinya juga ditekankan tentang pengawasan kelompok radikal dimaksud dengan selalu mencermati perkembangnya, termasuk bahaya laten Komunis yang senantiasa berusaha merusak ketatanegaraan di Indonesia. Menurutnya, saat ini faham radikal juga berkembang dengan berupaya memaksakan penggunaan kaidah dan nilai-nilai agama hingga nantinya dapat mengganggu solidaritas kerukunan antar umat beragama.

"Kita berharap kepada segenap pihak khususnya generasi muda dapat berperan aktif dalam menjaga keamanan serta senantiasa dapat mengupayakan tindakan antisipasi terkait perkembangan kelompok-kelompok yang ingin mengganggu stabilitas keamanan negara kita, baik itu kelompok ISIS maupun radikalisme lainnya dengan cara tetap waspada terhadap lingkungan sekitar, baik itu di lingkungan tempat tinggal ataupun kampus serta jangan mudah terprovokasi adanya ajakan-ajakan yang dapat merugikan diri sendiri," harap Dandim sebelum mengakhiri kegiatan. (JMS)