Rabu, 30 November 2016

Kodim Prakarsai Apel Nusantara Bersatu Gaungkan Bhinneka Tunggal Ika


Negara (Wisma Berita)

Apel Nusantara Bersatu yang berlangsung serentak seluruh Indonesia juga digelar oleh Kodim 1617/Jembrana. Pada apel yang dilaksanakan di Gedung Kesenian Bung Karno (GKBK) Kabupaten Jembrana Rabu  (30/11) pagi tersebut Wakil Bupati Jembrana Made Kembang Hartawan, disaksikan oleh anggota Forkominda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) seperti Dandim 1617/Jembrana Letkol Kav Hendra Ferdinandus, Waka Polres Jembrana A.A Rai Laba dan yang lainnya, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, TNI, Polri, PNS, Ormas dan Siswa SMP dan SMA menyampaikan orasi kebangsaan berjudul Membaca Kembali Keindonesiaan Kita dan Menjadikan Jembrana sebagai Taman Sarinya Bhineka Tunggal Ika.

Dalam orasinya itu, dengan penuh semangat Wabup Kembang menyebutkan, Indonesia sebagai bangunan peradaban negara bangsa, tentu tidaklah berdiri sendiri.
Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pergaulan peradaban dunia lainnya. Artinya keberadaan Indonesia sebagai sebuah nation tentu harus berinteraksi dengan negara - negara lain di dunia itu atas interaksi itulah kemudian melahirkan dinamika – dinamika baik yang disebabkan faktor internal dan external. Menurutnya sebagai sebuah bangsa, sejatinya Indonesia telah memiliki simpul – simpul peradaban sebagai pengikat dalam satu komunitas bersama yang kini juga disebut sebagai Empat Pilar Kebangsaan didalam berbangsa dan bernegara. Keempat pilar atau Konsensus dan simpul itu adalah Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. “Tanpa simpul tersebut maka kita akan gampang menjadi sebuah bangunan peradaban negara bangsa yang rapuh. Yang mudah pecah tercerai berai hingga menyebabkan akan hilangnya sebuah kedaulatan. Apakah kita menginginkan hal seperti itu terjadi? Jelas Tidak!! Karena suka atau tidak kebhinekaan itu adalah sebuah keniscayaan insaniah bahkan ilahiah,”kata Kembang.

Demikian juga dengan keberadaan Kabupaten Jembrana, bahwa kebhinekaan merupakan kenyataan yang tidak terbantahkan. Bahkan secara historical dibuktikan bagaimana Raja Jembrana menerima “Nyame Selam” yang masuk ke Jembrana. Banyak bukti – bukti budaya yang hingga kini dapat kita lihat sebagai bentuk baru budaya lokal yang merupakan hasil interaksi budaya Islam Melayu dengan budaya Hindu Bali. Bahasa Melayu Loloan berbeda dengan Bahasa Melayu kebanyakan seperti Bahasa Melayu Riau dan Bahasa Melayu Malaysia.

Selain bahasa secara sosiologis juga berkembang budaya yang disebut penyame brayaan dengan tradisingejot. Sebuah interaksi cultural yang melahirkan prilaku budaya baru. Jangan heran jika di daerah Air Kuning, Medewi, Yehsumbul bahkan Loloan ditemukan nama yang memasukkan nama unsur Bali. “Seperti nama Nyoman Musadat Djohar, atau I Ketut Syahruwaldi Abas. Atau untuk nama perempuan Ketut Siti Aminah atau panggilan Men Siti.

Begitu mesranya bangunan peradaban yang diwujudkan oleh para leluhur kita, bahkan dalam catatannya di Kabupaten Jembrana tidak pernah terjadi ketegangan sosial yang berbau Sara. “Untuk itu tidaklah berlebihan jika di dalam kesempatan ini saya mengajak seluruh komponen masyarakat di Jembrana untuk bersama – sama mewujudkan Jembrana sebagai Taman Sarinya Bhineka Tunggal Ika,” kata Kembang.

Selain orasi Wabup Kembang, dalam apel tersebut juga diisi dengan doa bersama yang dibawakan oleh tokoh agama Hindu, Islam, Budha, Katolik dan Protestan secara bergiliran, termasuk pembacaan puisi kebhinnekaan oleh siswa. (JMS)

Sabtu, 26 November 2016

Lokasi Pembangunan Anjungan Cerdas Rambutsiwi Ternyata Wilayah Angker


Jembrana (Wisma Berita)

Pembangunan Anjungan Cerdas di kawasan Pura Rambutsiwi, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Jembrana saat ini sedang berlangsung dan direncanakan kelar pada tahun 2018 mendatang.

Namun dibalik pelaksanaan pembangunan Anjungan Cerdas tersebut ada kisah-kisah mistis yang menarik untuk disimak. Kisah mistis ini oleh masyarakat setempat dikaitkan dengan keadaan lokasi pembangunan Anjungan Cerdas tersebut.

Kawasan tempat dibangunnya Anjungan Cerdas tersebut dulunya terkenal angker. Ini karena lokasinya masih berada pada kawasan Pura Rambutsiwi yang menurut para sesepuh desa menyimpan cerita mistis.

Menurut Jro Mangku Suardana, salah satu pemangku di Pura Rambutsiwi mengatakan, Kawasan Pura Rambutsiwi dulunya memang terkenal angker. 

Bersarkan cerita-cerita yang berkembang di masyarakat kawasan itu dulunya di tempati oleh seorang raksasa sakti dengan dikawal 2 ekor macan yakni macan hitam dan macan gading yang sangat buas.

"Raja raksasa itu mewajibkan rakyatnya untuk mempersembahkan guling manusia kepada dirinya,” tutur Jro Mangku Suardana, Sabtu (26/11/2016)

Karena permintaan raja raksasa yang nyeleneh itu, rakyatnya menjadi kesal dan marah. Kemudian anak raja raksasa itu diguling oleh rakyat untuk dipersembahkan kepada raksasa tersebut.

"Tapi akhirnya raja raksasa itu tahu kalau yang diguling itu anaknya. Rajapun murka dan mulai saat itulah raja raksasa itu mulai menyantap rakyatnya hidup-hidup,” imbuh Jro Mangku Suardana.

Semenjak itulah menurut Jro Mangku Suardana kawasan tersebut menjadi mencekam dan seram. Namun akhirnya datanglah seorang Pendeta yang sangat sakti yakni Dang Hyang Nirartha ke wilayah tersebut.

Terjadi perang kesaktian antara Dang Hyang Nirartha dengan Raja raksasa tersebut dengan hasil raja raksasa berhasil tunduk kepada Dang Hyang Nirarta. 

"Raja raksasa meminta ampun dan mengakui kesalahannya dan oleh Dang Hyang Nirarta raksasa itu diampuni dengan syarat harus menjadi pengikutnya,” kata Jro Mangku Suardana.

Disamping itu raja raksasa dan kedua macan yang menjadi pengawalnyapun di supat agar tidak bisa dilihat oleh rakyat atau manusia secara kasat mata dan hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang memiliki indra keenam.

Sejak saat itulah kawasan Rambutsiwi dan sekitarnya dikenal angker termasuk kawasan tempat dibangunnya anjungan cerdas tersebut. Dulunya sering warga melihat penampakan sosok macan gading serta raksasa di sekitar lokasi tersebut.

Termasuk warga tidak berani berbuat yang aneh-aneh di sekitar wilayah tersebut, termasuk untuk berbuat mesum atau sekedar berpacaran karena mereka percaya akan menemui bahaya jika dilanggar.

Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu terhadap dua orang pekerja proyek Anjungan Cerdas tersebut. Entah karena keangkeran lokasi tersebut atau karena hal lain, satu orang pekerja tiba-tiba lemas di lokasi proyek dan harus pulang lebih awal dan akhienya meninggal dunia.

Sementara satu pekerja lainnya tiba-tiba pingsan saat membongkar dan memindahkan pelinggih penunggu yang berada di lokasi proyek dan harus dilarikan ke Pukesmas setempat.

Terkait hal itu, maka Jro Mangku Suardana akhirnya juga ikut melakukan pengacian sepiritual demi keamanan pelaksanaan proyek Anjungan Cerdas.

"Benar ada kejadian yang menimpa pekerja proyek itu. Tapi kami tidak berani menyimpulkan itu karena lokasinya yang anker, mungkin saja meninggal karena memang memiliki penyakit atau pingsan karena kepadasan,” terang I Kadek Suardika, salah seorang tokoh masyarat setempat. (JMS)

Rabu, 23 November 2016

Danramil Ajak Masyarakat Bersatu Dan Tidak Mudah Terprovokasi


Mendoyo (Wisma Berita)

Menyikapi adanya isu terkait rencana Aksi Bela Islam (ABI) jilid III tanggal 2 Desember nanti di Jakarta, seizin Dandim 1617/Jembrana, Letkol Kav Hendra Ferdinandus, Rabu (23/11) siang Danramil 1617-02/Mendoyo, Lettu Inf M. Zainul Eksan didampingi oleh Babinsa dan Babinkantibmas melakukan anjangsana terhadap para Tokoh Agama (Toga) yang ada di wilayah Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali.

Dalam pertemuannya di Masjid Baitul Amilin Desa Yehsumbul, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali dengan beberapa tokoh agama dan masyarakat, Danramil 1617-02/Mendoyo, Lettu Inf M. Zainul Eksan mengatakan, negara Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya alam, hingga senantiasa menjadi incaran negara-negara luar. "Tentu berbagai isu dimainkan atau diperankan termasuk dalam ajang pesta demokrasi untuk memecah belah persatuan bangsa Indonesia. Untuk itu, kami mengajak seluruh warga masyarakat di Kecamatan Mendoyo ini pada khususnya untuk bersama-sama menjaga 'Kebhinekaan' diantaranya dengan memperkuat keberagaman sebagai perekat keutuhan, persatuan dan kesatuan bangsa," jelasnya.

Lebih lanjut Danramil menghimbau, masyarakat hendaknya tidak mudah terprovokasi isu berbau SARA seperti gencarnya pemberitaan di media sosial terkait dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok, karena hal itu dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Peranserta para tokoh agama diharapkan dapat proaktif memberikan pemahaman kepada masyarakat dan mempercayakan penanganan perkara terkait dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI (nonaktif), Basuki Tjahaya Purnama kepada Bareskrim Polri.

"Mari sepenuhnya percayakan penyelesaiannya kepada pemerintah dan aparat terkait, sesuai dengan ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku," imbuh Danramil seraya mengakhiri pertemuannya. (JMS)

Selasa, 22 November 2016

BPIW Kementerian PUPR Apresiasi Deviasi Plus 13% Progres Pembangunan Ancer


Mendoyo (Wisma Berita)

Pembangunan Anjungan Cerdas Jalan Nasional (ACJN) yang berlokasi kawasan Pura Dangkahyangan Luhur Rambutsiwi jalan raya Denpasar-Gilimanuk, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo Kabupaten Jembrana, Selasa (22/11) siang kembali dikunjungi Tim Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dipimpin Kabag Program dan Evaluasi BPIW Kementrian PUPR, Salahudin.

Kedatangan dari Tim BPIW Kementrian PUPR diterima Project Officer BPIW, Johanes Panjaitan bersama Project Manajer PT. Nindya Karya, Syahriwal dan Manajemen Konsultan PT. Virama Karya, Toni selaku pengawas proyek.

Manajer Teknik PT. Nindya Karya, Arum Sari Trihadiningsih didampingi Manajer K3 PT. Nindya Karya, Eka Putra Jaya kepada Tim BPIW Kementrian PUPR memaparkan dimana progres pelaksanaan pembangunan Anjungan Cerdas (Ancer) hingga saat ini mencapai deviasi lebih yakni sebesar 13,3440% dari perencanaan awal sebesar 9,6584% dengan realiasasi menjadi sebesar 23,0024%. Lebih lanjut, Arum mepaparkan site plan pembangunan secara detail sebagai gambaran Ancer jika nantinya telah rampung 100% dalam pengerjaannya. "PT. Nindya Karya mengadopsi Design and Buil, yakni mendisign dan membangun dalam pelaksanaan pembangunan Anjungan Cerdas," jelasnya.

Sementara itu, salah satu tokoh masyarakat sekitar lokasi pembangunan Ancer, Jro Mangku Suardana (42) menyambut baik pelaksanaan Ancer karena peruntukannya adalah demi kesejarteraan masyarakat. Pihaknya mengaku, sejak awal telah mewanti-wanti agar pelaksanaan pembangunan Ancer mengoptimalisasi kearifan budaya lokal sehingga Ancer nantinya benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. Salah seorang Pemangku (pemimpin persembahyangan umat Hindu) di Pura Tirtha Dangkahyangan Luhur Rambutsiwi ini juga memaklumkan agar Ancer senantiasa bisa bersinergi dengan Pura Dangkahyangan Luhur Rambutsiwi karena keberadaan pura ini merupakan salah satu pura yang menjadi tempat bersembahyang bukan saja baga umat Hindu di Bali tetapi seluruh umat Hindu yang ada.

Kabag Program dan Evaluasi BPIW Kementrian PUPR, Salahudin mengapresiasi deviasi plus 13% pembangunan Ancer dan apa yang menjadi aspirasi masyarakat. "Peruntukan Ancer nantinya adalah demi kesejarteraan masyarakat. Dengan hal itu, saya juga minta pihak manajemen PT. Nindya Karya sebagai pelaksana pembangunan agar tetap mengedapankan design-design bangunan dengan mengadopsi kearifan budaya lokal, salah satunya misalnya seperti apa yang diungkapkan Jro Mangku Suardana," jelasnya.

Terkait hal itu, pihaknya langsung meminta adanya perubahan design seperti pada papan nama Ancer termasuk pemasangan patung Makepung (Karapan Kerbau) yang merupakan maskot Kabupaten Jembrana dan sebagainya nantinya bisa menggunakan design khas Bali.

Setelah menerima paparan Tim BPIW Kementrian PUPR langsung ke lapangan untuk mengecek pelaksanaan pembangunan Ancer. (JMS)

Minggu, 20 November 2016

Regu Ijogading Timur Unggul Dalam Lomba Makepung Jembrana Cup Tahun Ini


Jembrana (Wisma Berita)

Makepung, adalah semacam atraksi Karapan berasal dari Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali. Mekepung artinya berkejar-kejaran, namun dalam atraksi mekepung ini tidak menggunakan sapi melainkan kerbau. Inspirasi ini muncul dari kegiatan tahapan proses pengolahan tanah sawah yaitu tahap melumatkan tanah menjadi lumpur dengan memakai Bajak Lampit Slau. Bajak lampit slau ini ditarik oleh dua ekor kerbau dan sebagai alat penghias kerbau maka pada leher kerbau tersebut dikalungi Gentha Gerondongan (Lonceng besar) sehingga apabila kerbau tersebut berjalan menarik bajak lampit slau maka akan kedengaran bunyi seperti alunan musik. Karena bekerja gotong royong maka ada bajak banyak yang masing-masing ditarik oleh dua ekor kerbau yang ditunggangi oleh seorang sais atau kusir duduk di atas bajak lampit slau.

Atraksi mekepung ini berkembang sejak tahun 1930an dan Sais-nya berpakain ala prajurit Kerajaan di Bali zaman dulu yaitu memakai destar atau udeng (semacam ikat kepala khas adat Bali), selendang, selempod, celana panjang tanpa alas kaki dan di pinggang terselip sebilah pedang yang memakai sarung poleng (warna hitam putih). Makepung dibagi menjadi 2 wilayah (blok) yaitu blok barat dan blok timur.

Dalam event kali ini, regu Ijogading Timur menyapu bersih seluruh kelompok perlombaan Mekepung Jembrana Cup tahun ini yang digelar di Sirkuit Delod Berawah, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Minggu (20/11). Dari tiga kategori yang diperlombakan, yakni kategori A, B dan C seluruhnya berhasil dimenangkan sekaha mekepung yang dikoordinatori I Kadek Rentana, yang juga perbekel Desa Belod Berawah. Hingga atas torehan tersebut, predikat juara umum juga berhasil diraih dengan jumlah hadiah sebesar Rp 25 juta. Berikut, regu Ijogading Barat sebagai juara umum kedua berhak atas hadiah dan uang pembinaan sebesar Rp 20 juta. Hadiah diserahkan langsung oleh Bupati Jembrana I Putu Artha.


Namun berbeda dari kompetisi pada umumnya, uang itu tidak langsung dibawa pulang oleh masing-masing pemenang, tapi justru dibagi dua untuk Ijogading Barat dan Ijogading Timur. "Ini sudah merupakan kesepakatan sebelumnya, dimana uang itu nantinya dipergunakan kembali untuk keperluan sekaa ,berupa untuk pemeliharaan sirkuit seperti pembelian pasir, perbaikan gorong-gorong, biaya rapat termasuk untuk biaya transport kepada setiap kereta peserta. Jadi tidak ada yang masuk kekantong sendiri,“ ujar I Made Mara Kordinator Sekaa Mekepung Jembrana.

Sementara itu Bupati Jembrana I Putu Artha mengatakan saat ini tradisi mekepung sebagai ikon dan daya tarik pariwisata Jembrana telah diakui sebagai warisan budaya nasional oleh kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. 

Selain sebagai warisan budaya yang harus terus dilestarikan, Arta juga bergembira karena tradisi mekepung ini tiap tahunnya kian digemari terbukti makin meningkatnya jumlah peserta dalam setiap event yang digelar pemerintah daerah. “Tahun ini jumlah peserta terdaftar sebanyak 294 pasang kerbau, meningkat dari tahun lalu. Ini menunjukkan masyarakat Jembrana makin menggemari tradisi budaya makepung yang cuma ada di Kabupaten Jembrana,“ kata Artha.

Artha juga mengaku sangat bangga dengan kebersamaan masyarakat khususnya Sekaa Makepung yang terus meningkatkan kelestarian makepung. Pihaknya akan terus memberikan semangat dan juga bantuan agar makepung makin berkembang diantaranya melalui peningkatan sarana prasarana seperti akan dibangunnya sirkuit mekepung di Samblong.

Selain itu total hadiah sebagai stimulus sekaa juga terus ditingkatkan tiap tahunnya. Pada pelaksanaan Mekepung Jembrana Cup tahun ini panitia menyiapkan total hadiah sebesar Rp 90 juta. (JMS)

Jumat, 18 November 2016

Puluhan Jamban Kembali Dibangun TNI Untuk Warga Miskin


Mendoyo (Wisma Berita)

Kodim 1617/Jembrana secara bertahap terus menggencarkan realisasi pembuatan jambanisasi di wilayahnya melalui jajaran Koramil.

Kini, melalui Koramil 1617-02/Mendoyo terjun langsung membangun lebih dari 20 unit jamban sehat kepada warga miskin di wilayah Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana.

Salah satunya, Ni Wayan Murti (57) seorang janda miskin memiliki 3 orang anak asal di Lingkungan Bilukpoh Kangin, Kelurahan Tegal Cangkring, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, mengaku terharu dan senang sekali bisa mendapatkan jambanisasi dari TNI ini. "Kami bekerja hanya sebagai buruh tani serabutan hingga penghasilan kami cukup hanya memenuhi kebutuhan makan dan sekolah anak-anak saja. Maka kami ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada TNI yang telah membuatkan jamban salah satunya kepada keluarga kami. Kini kami tak lagi merepotkan tetangga saat melakukan MCK, apalagi harus bersusah payah ke sungai," ungkapnya.

Sementara itu, Danramil 1617-02/Mendoyo Lettu Inf M. Zainul Eksan Jumat (18/11) menjelaskan, jambanisasi ini bertujuan untuk menjaga kesehatan lingkungan dimana warga agar tidak buang kotoran di sembarang tempat, karena kalau buang kotoran di sembarang tempat jelas akan mencemari air sungai juga lingkungan setempat sehingga lingkungan akan menjadi tidak sehat, dan memang sudah tidak sepantasnya lagi di zaman seperti ini masih ada orang yang buang kotoran di sembarang tempat. "Ibu Murti salah satu dari keluarga miskin yang ada di wilayah Kecamatan Mendoyo ini layak menjadi sasaran Jambanisasi, untuk meringankan beban sekaligus mendapat kehidupan yang layak atas sarana sanitasi keluarga dan pembangunan jamban untuk ibu Murti telah dikerjakan sejak awal bulan November lalu, dimana saat ini pambangunannya sudah hampir rampung dan akan segera diserahkan pemanfaatannya," jelas Danramil. (JMS)

Kamis, 17 November 2016

Wujudkan Rasa Nasionalisme Sejak Dini, Pelajar SD Terima Pembekalan Wasbang


Mendoyo (Wisma Berita)

Dalam rangka mewujudkan rasa nasionalisme, jiwa korsa (kebersamaan), rasa cinta tanah air, persatuan dan kesatuan serta patriotisme terutama dikalangan dunia pendidikan, Kamis (17/11) pagi, Koramil 1617-02/Mendoyo menggelar kegiatan pembekalan Wasbang kepada para pelajar tingkat Sekolah Dasar di wilayah Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana.

Wasbang dilakukan dengan metode Quisioner yakni memberikan penekanan-penekanan singkat dan pertanyaan-pertanyaan tentang Pancasila dan UUD 1945, warna bendera kebangsaan, lagu wajib nasional, nama pejabat negara, nama daerah serta nama pahlawan nasional, dan sebagianya.


Danramil 1617-02/Mendoyo Lettu Inf M. Zainul Eksan seizin Dandim 1617/Jembrana Letkol Kav Hendra Ferdinandus mengatakan, kegiatan ini merupakan Wasbang lanjutan bagi Sekolah Dasar di Kecamatan Mendoyo yang belum sempat menerima Wasbang pada bulan Agustus lalu. "Melalui pemahaman Wawasan Kebangsaan ini, para pelajar sebagai tunas bangsa diharapkan sejak awal dapat menumbuhkan semangat kebangsaan atau nasionalisme berdasarkan Pancasila sebagai ideologi dan pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, serta dapat melahirkan motivasi dalam mengisi kemerdekaan dengan pembangunan dalam berbagai sektor sejak dunia anak, sekaligus manivestasi kesadaran bela negara di kalangan pelajar," jelas Danramil 1617-02/Mendoyo, Lettu Inf M. Zainul Eksan.


Salah satu diantaranya, Ni Gusti Ayu Sudiani, S.Pd (50) Kepala SDN 3 Delod Bale Agung, Desa Mendoyo Dauh Tukad mengaku senang sekali bisa diselenggaraknnya kegiatan ini, karena dengan pembekalan Wasbang maka para pelajar sejak dini akan dapat membentengi diri dari pengaruh negatif kemajuan teknologi informasi, karena di era sekarang kemajuan teknologi ini bahkan telah diadopsi oleh kalangan anak-anak pelajar setingkat Sekolah Dasar. "Nantinya, anak-anak remaja jangan sampai terjerumus pada berbagai kenakalan akibat seringnya membaca dan melihat situs-situs yang gampang ditiru, seperti pergaulan bebas, ugal-ugalan, narkoba dan melakukan tindakan kriminal lainnya yang disebabkan ketidakpemahaman akan Wawasan Kebangsaan yang berakibat membahayakan bangsa sendiri," terangnya. 


Adapun materi Wasbang lanjutan ini disampaikan oleh masing-masing Babinsa dan diikuti oleh para pelajar dan guru beserta para TU di tingkat Sekolah Dasar yang ada di wilayah Kecamatan Mendoyo, Kabupaten, diantaranya di SDN 1 Delod Brawah diberikan oleh Serda I Made Suartama kepada siswa/siswi kelas VI dengan jumlah 30 orang, di SDN 4 Sekar Kejula Kelod Desa Yehembang Kauh diberikan oleh Serda I Wayan Darma Adnyana kepada siswa/siswi kelas VI dengan jumlah 25 orang, di SDN 3 Delod Bale Agung Desa Mendoyo Dauh Tukad diberikan oleh Pelda Riyanto dan Serda I Nyoman Reden kepada siswa/siswi kelas V dengan jumlah 28 orang, di SDN 1 Tegal Cangkring diberikan oleh Sertu I Ketut Duana didampingi Pelda Saefudin Zuhri kepada siswa/siswi kelas V dengan jumlah 22 orang, di SDN 1 Yehembang Kangin diberikan oleh Sertu I Gusti Ketut Dena kepada siswa/siswi kelas V dengan jumlah 30 orang dan SDN 3 Yehembang diberikan oleh Pelda I Nengah Sugiarta kepada siswa/siswi kelas V dengan jumlah 25 orang. (JMS)