Kamis, 13 Oktober 2016

Puluhan Warga Banjiri Balai Banjar Saat TMMD Gelar Pengobatan Masal Gratis


Pekutatan (Wisma Berita)

Balai Banjar Pasar, Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, Kamis (13/10/16) siang dibanjiri puluhan warga. Pasalnya, selain membangun jembatan sepanjang 200 meter sebagai sasaran fisik utama dan sasaran fisik tambahan lainnya seperti pembuatan badan jalan dan bedah rumah serta jambanisasi, dalam menyukseskan TMMD ke-97 tahun 2016 di Dusun Serong, Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana Satgas TMMD Kodim 1617/Jembrana juga menggandeng Tim Medis Independen Komunitas Instan Hiling dari Jakarta untuk menggelar pengobatan masal secara gratis sebagai sasaran non fisik terhadap warga Kabupaten Jembrana pada umumnya.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan Tim Medis diantaranya Ibu Nana Atmika beserta dua orang rekannya yakni Master Dani dan Master Noval, terhadap warga yang datang berobat rata-rata mendiagnosa jenis penyakit yang kerap dialami hampir setiap orang diantaranya tekanan darah tinggi, migren dan asam urat. "Dihadapkan pada masa pergantian musim saat ini, banyak juga warga yang berobat karena mederita batuk, sakit mata, pilek, demam serta alergi," jelas Ibu Nana Atmika selaku Ketua Tim Medis.

Dalam kesempatan itu, berbagai obat-obatan secara gratis diberikan kepada pasien. Jika dilihat dari skala prioritas, pengobatan tersebut lebih fokus pada penyakit sedang dan ringan, tetapi dari sisi kwalitas dan kwantitas obat-obatan medis yang diberikan tidak kalah dengan obat-obatan yang ada di apotik.

"Terus terang kami merasa bersyukur dan sangat berterima kasih atas terselenggaranya pengobatan ini," ucap Ni Nyoman Suci (45) salah seorang warga setempat di sela-sela puluhan antrian warga yang datang berobat.

Hal senada juga disampaikan warga lainnya, "kami sangat menyambut baik kegiatan TMMD Ke-97 di Desa Gumbrih ini, lantaran banyak sekali warga luar Desa Gumbrih juga bisa mendapatkan pengobatan gratis dari TNI,” ungkap I Made Sulistyawan (36) yakni salah seorang warga dari Desa Yehsumbul, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana yang juga datang berobat disana.

Dandim 1617/Jembrana, Letkol Kav Hendra Ferdinandus selaku Dantgas TMMD menjelaskan, pengobatan gratis ini adalah salah satu program dalam TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-97 tahun ini, pada intinya bertujuan untuk membantu Pemkab Jembrana dalam hal mensejahterahkan masyarakat melalui pembangunan fisik dan non fisik serta memantapkan kemanunggalan antara TNI dengan rakyat dalam rangka menyiapkan alat juang serta kondisi juang yang tangguh. (JMS)

Selasa, 11 Oktober 2016

Pangdam Didampingi Danrem Tinjau Pelaksanaan Kegiatan TMMD


Pekutatan (Wisma Berita)

Setelah sehari kemarin ditinjau oleh Tim Pengawas dan Evaluasi (Wasev) Penanggung Jawab Operasi (PJO) TMMD ke-97 yang dipimpin Ketua Tim Brigjen TNI I Wayan Munanta, TMMD ke-97 tahun 2016 di Dusun Seorng, Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana yang digelar oleh Satgas TMMD Kodim 1617/Jembrana, Selasa (11/10/16) kini ditinjau Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Kustanto Widiyatmoko beserta rombongan.

Seusai mendapatkan paparan guna memberikan gambaran tentang pelaksanaan TMMD tersebut dari Dandim 1617/Jembrana, Letkol Kav Hendra Ferdinandus selaku Dansatgas TMMD, selanjutnya Pangdam IX/Udayana Mayjen TNI Kustanto Widiyatmoko didampingi Danrem 163/WSA Kolonel Inf I Nyoman Cantiasa langsung meninjau pelaksanaan kegiatan sasaran fisik pokok TMMD itu yakni pembangunan jembatan sepanjang 20 meter dengan lebar 3,5 meter dan tinggi 5 meter tersebut.

Dalam kesempatan itu, Pandam menekankan agar kegiatan dilakukan dengan lebih serius dan senantiasa memperhatikan kegiatan terutama yang berkaitan dengan masyarakat. Lebih lanjut, Pangdam memberikan banyak masukan kepada pelaksana TMMD diantaranya pengerjaan akses jalan menuju jembatan dikaitkan dengan kondisi sungai, misalnya yang tepat berada pada posisi tikungan di pingiran sungai tersebut diperkuat dengan batu armor (bronjong). "Pengerahan tenaga juga agar diperhatikan dengan kebutuhan masyarakat sehingga waktunya tidak berbenturan dengan aktifitas keseharian dari masyarakat dan hal yang terpenting adalah jadikan TMMD ini sebagai kegiatan yang dapat mendorong tumbuhnya inovasi dan kreatifitas serta semangat masyarakat desa karena pada hakekatnya pembangunan ini adalah untuk kepentingan masyarakat," jelas Pangdam.


Pangdam juga memberikan memotivasi kepada seluruh perangkat yang terlibat pada TMMD. Pangdam berharap kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik dan seluruh sasaran TMMD baik fisik maupun non fisik dapat  tercapai 100 % sehingga benar-benar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat setempat dalam percepatan pembangunan daerah tersebut serta meningkatkan kemanunggalan TNI dengan Rakyat.

Sementara itu, Danrem 163/WSA Kolonel Inf I Nyoman Cantiasa tidak lupa mengingatkan kepada seluruh prajurit dan masyarakat yang terlibat dalam pelaksanaan TMMD agat senantiasa memperhatikan faktor keamanan baik personel maupun materiil dalam setiap kegiatan sehingga sasaran betul-betul dapat tercapai sesuai dengan rencana terlebih saat-saat sekarang di musim penghujan karena tidak menutup kemugkinan bisa saja terjadi banjir di sungai yang menjadi lokasi TMMD.


Setelah meninjau pembangunan jembatan, Pangdam beserta rombongan juga meninjau sasaran fisik tambahan dari TMMD yakni bedah rumah dan jambanisasi.

I Wayan Suartana (48) salah seorang warga kurang mampu di Dusun Rukun, Desa Gumbrih yang mendapatkan bedah rumah dengan rasa haru dan bangga menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada bapak TNI yang bersedia membangun rumah yang sudah tidak layak huni. "Saya tidak bisa membalas kebaikan dari bapak-bapak tentara, tetapi saya yakin Tuhan pasti akan membalas semua kebaikan bapak", ungkapnya di hadapan Pangdam.


Hal senada disampikan I Ketut Nurjana, Kepala Desa Gumbrih mewakili seluruh warganya juga mengaku terharu dan merasa mendapatkan satu kehormatan memperoleh program TMMD, hingga masyarakat dapat menikmati pembangunan jalan, jembatan dan banyak lagi sasaran tambahan lainnya serta berbagai penyuluhan, olah raga bersama bahkan sampai panggung hiburan. "Kami berharap hubungan antara warganya dengan TNI pada umumnya senantiasa dapat terpelihara dengan baik dan akan terus berlanjut," jelas Kepala Desa.

Diakhir kunjungannya Pangdam tidak lupa menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh prajurit dan masyarakat yang sedang melaksanakan tugas TMMD tersebut dengan baik, juga kepada Pemkab Jembrana. (JMS)

Senin, 10 Oktober 2016

Tim Wasev Tinjau Pelaksanaan TMMD


Pekutatan (Wisma Berita)

Tim Pengawas dan Evaluasi (Wasev) Penanggung Jawab Operasi (PJO) TMMD ke-97 dipimpin Ketua Tim Brigjen TNI I Wayan Munanta beserta anggota Tim Kolonel Inf I Komang Karmasunu didampingi Danrem 163/WSA Kolonel Inf I Nyoman Cantiasa, Senin (10/10/16) tinjau pelaksanaan TMMD ke-97 di Dusun Serong, Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana yang digelar oleh Satgas TMMD Kodim 1617/Jembrana.

Kedatangan Tim Wasev tersebut disambut Dandim 1617/Jembrana, Letkol Kav Hendra Ferdinandus selaku Dansatgas TMMD, didampingi Bupati Jembrana yang diwakili oleh Staf Ahli Pemkab Jembrana I Made Widana, Kasiter Korem 163/WSA Mayor Inf IBG Wisastra beserta Staf, Ketua DPRD Jembrana yang diwakili I Nyoman Sudiasa dari fraksi PDIP, Kasdim 1617/Jembrana Mayor Inf Nanang Sulistiyo selaku Wadansatgas TMMD, Pasi Bhakti Korem 163/WSA Mayor Inf Hadi, Pasiter Kodim 1617/Jembrana Kapten Inf Yudana, Pasilog Kodim 1617/Jembrana Kapten Chb Karyanto, Kadis PU Jembrana yang diwakili Kabid Bina Marga PU Erdiyanto, Camat Pekutatan I Ketut Eko Susila, Sekcam Pekutatan Toto Subiantoro dan Kepala Desa Gumbrih I Ketut Nurjana serta Tokoh Masyarakat berjumlah keseluruhan sebanyak 20 orang.

Sebelum meninjau lokasi TMMD, Tim Wasev mendapatkan paparan dari Dandim 1617/Jembrana, Letkol Kav Hendra selaku Dansatgas TMMD untuk memberikan gambaran tentang TMMD ke -97 tersebut.

Dalam paparannya, Dandim menjelaskan bahwa TMMD merupakan kegiatan terpadu untuk membentuk kesejahteraan masyarakat dalam rangka kemanunggalan bersama rakyat, pemilihan lokasi TMMD didasarkan dari musyawarah terpadu dengan landasan kepentingan masyarakat, pelaksanaan kegiatan TMMD melibatkan Pemda, TNI-Polri dan masyarakat.

Adapun dasar pelaksanaan TMMD ini adalah sesuai ST Pangdam IX/Udayana, Nomor : ST/1550/IX/2015 tanggal 7 November 2015 dan ST Danrem 163/WSA Nomor ST/558/2015 tanggal 7 Nopember 2015 tentang Pelaksanaan TMMD.

Menurut Dandim, tujuan dari kegiatan TMMD ini dimana sasaran secara fisik adalah untuk menyamakan visi dan misi antara TNI dengan aparat pemerintah dan masyarakat demi mewujudkan daerah juang yang tangguh, menciptakan suasana kondusif, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara khususnya di Desa Gumbrih, kegiatan ini juga merupakan pengamalan dari Pancasila dan UUD 1945 serta senantiasa dapat menjaga kerukunan antar umat di daerah. Sedangkan secara non fisik adalah menumbuhkan peran pemuda dlm menghadapi ancaman Proxy War, kesadaran bela negara serta meningkatkan wawasan kebangsaan, selain itu juga menimbulkan rasa gotong royong, kekeluargaan dan rasa kebersamaan dalam membangun daerahnya.

Lebih jauh Dandim menjelaskan, Kodim 1617/Jembrana merupakan satu-satunya Satgas yang mendapat sasaran fisik TMMD terpanjang yakni membuat jembatan sepanjang 20 meter dengan anggaran sebanyak 1 Miliyar dimana dana tersebut merupakan hibah dari Pemkab Jembrana yang bersumber dari APBD Jembrana, sedangkan di tempat lain sasaran maksimal TMMD rata-rata sepanjang 18 meter.

Dengan anggaran itu selain pembangunan jembatan, Satgas juga melakukan kegiatan fisik lainnya berupa pembuatan badan jalan, bedah rumah dan jambanisasi. "Untuk badan jalan dikerjakan sepanjang 200 meter dengan lebar 6 meter, sedangkan untuk bedah rumah sebanyak 2 unit, sementara jambanisasi sebanyak 10 unit," papar Dandim.


Sementara itu, Ketua Tim Wasev Brigjen TNI, I Wayan Munanta mengatakan bahwa kedatangan mereka adalah mewakili KASAD selaku penanggung jawab Operasional Pelaksanaan TMMD ke-97 dan dapat meninjau secara langsung kegiatan TMMD yang saat ini sedang berjalan sekaligus mengukur kinerja Satgas mulai dari tahap perencanaan, persiapan, pelaksanaan dan pengakhiran.

"Kegiatan TMMD ini tujuannya adalah membantu kesulitan rakyat dan juga sebagai sarana utk mempererat hubungan antara TNI dg rakyat. Untuk itu, kita harus menyadari bahwa hubungan TNI dengan rakyat tidak bisa dipisahkan karena sejarah sudah membuktikan TNI lahir dari rakyat dan berjuang bersama rakyat dalam berjuang merebut kemerdekaan serta sampai kapanpun roh TNI adalah rakyat, tanpa rakyat TNI bukanlah apa-apa," jelasnya.

Seusai menerima paparan dari Dandim, Tim Wasev beserta rombongan secara maraton meninjau Bedah Rumah diantaranya milik I Wayan Suartana di Banjar Sengguhan, Dusun Rukun, Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana dan Jambanisasi milik I Made Sukadana, yang juga adalah warga desa setempat, dilanjutkan meninjau lokasi Bedah Rumah milik I Wayan Sudarmawan di Banjar Sari Dusun Serong, Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana.

Setelah meninjau sasaran fisik tambahan dari TMMD tersebut, Tim Wasev menuju lokasi pembangunan Jembatan di Dusun Serong, Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana yang merupakan sasaran fisik utama dari TMMD.

Sebelum mengakhiri kunjungannya, Ketua Tim Wasev Brigjen TNI I Wayan Munanta, tak lupa mengucapkan terima kasih atas dukungan Pemerintah Daerah dan peran aktif masyarakat. "Selain tu saya berpesan kepada anggota TNI agar selalu memupuk rasa persaudaraan dan semangat gotong royong serta tingkatkan rasa kepedulian. Kegiatan TMMD haruslah tepat waktu, secara fisik sararan TMMD ini adalah harus dapat mendorong perekonomian, sedangkan sasaran non fisik adalah dapat mendorong kehidupan masyarakat lebih baik serta lebih cinta tanah air dan nasionalisme. Senantiasa pelihara kemanunggalan TNI dengan rakyat agar tetap solid guna dapat mencapai tujuan dari TMMD serta dalam segala hal kegiatan haruslah tetap tertib administrasi," imbuhnya. (JMS)

Minggu, 09 Oktober 2016

Penunggun Karang Sebagai Pelindung Penghuni Rumah

Oleh :
JRO MANGKU SUARDANA
Pasraman Sesepuh

Om Swastyastu,

         Umat Hindu di Bali meyakini bahwa setiap bangunan suci atau pelinggih yang ditempatkan di pekarangan rumah atau tempat suci keluarga pasti diperuntukkan sesuai dengan fungsi dan kegunaannya. Bangunan-bangunan suci dimaksud bukan saja difungsikan, tetapi juga diyakini sebagai sthana Dewa-Dewi atau linggih Ida Bhatara dan roh suci leluhur serta makhluk niskala (gaib) lainnya. Atas dasar keyakinan, tidak perlu kita telisik dari mana munculnya keyakinan tersebut, yang jelas diyakini bahwa adanya bangunan-bangunan suci itu adalah tempat bagi manusia menjalin hubungan dengan yang niskala (alam gaib). Terlebih bangunan suci pelinggih Tugu Karang yang sering disebut dengan Pengijeng Karang atau Penunggun Karang sangat sering dihubungkan dengan hal yang niskala, baik dalam teks mitologi sastra dan sebagainya. Menariknya, pelinggih Tugu Karang ini paling sering dihubungkan dengan hal magis dan terkesan mistis. Walaupun memang demikian adanya, bahwa hal yang mistis, gaib dan magis sangat susah dibawa dalam ranah logika dan emperik, serta selamanya ia akan tetap menjadi misteri. Namun, misteri bukan berarti kita wajib memecahkannya dengan logika, tetapi yang misteri biarlah menjadi misteri bagian dari pengalaman manusia dalam berhubungan dengan dunia niskala. Sebab ada beberapa misteri di alam niskala manusia tidak diperbolehkan memecahkannya, terlebih cerita-cerita niskala yang berkaitan dengan mistik magis, berupaya dilogikakan pasti selamanya tidak akan nyambung. Anehnya, manusia kekinian sering sekali memaksa menarik yang niskala dalam ranah sekala (nyata) yang terbatas. Alhasil banyak manusia yang putus asa akibat kehilangan kepekaan mereka terhadap yang niskala.

Tugu Karang yang dibuat oleh para tetua di Bali, bukanlah hanya sekadar bangunan suci dan sesederhana pemahaman kita manusia modern yang kritis memahaminya. Secara gamblang, Tugu Karang adalah bangunan tenget (angker) yang dibuat dan diletakkan di tempat khusus melalui perhitungan tenget (magis-mistik). Tujuannya, jelas untuk menarik unsur-unsur magis makhluk niskala yang memiliki tingkatan kesaktian (kekuatan niskala) lebih tinggi dari Jin, gamang, dedemit dan yang lainnya (Bahu Reksa). Setelah Tugu Karang selesai ditempatkan pada tempat khusus, seperti depan pintu masuk dan barat laut pekarangan. Selanjutnya melalui banten dan prosesi khusus, seluruh makhluk niskala (gaib) yang ada di wilayah pekarangan itu kemudian diamorkan menjadi satu kesatuan energi yang utuh digelarkan Sedahan Karang dan disthanakan di Tugu Karang. Setelah melewati prosesi tersebut, sah secara niskala makhluk-makhluk yang telah diamorkan tersebut yang sesungguhnya adalah prabawa dari Sang Hyang Panca Maha Butha menjadi Penunggun Karang hingga juga dikenal dengan sebutan Sedahan Karang dengan harapan mampu memberikan perlindungan pada manusia (penghuni rumah) dari gangguan niskala, sebab gangguan niskala, hanya kekuatan niskala yang mampu menetralisirnya.

Dengan demikian, peletakan Tugu Karang dalam setiap pekarangan dimaksudkan agar makhluk tersebut memberikan perlindungan kepada penghuni rumah. Namun, kadangkalanya juga bisa mengganggu penghuni, apabila penghuni rumah mengabaikan kewajibannya untuk memberikan persembahan terlebih jika terjadi salah penempatan. Sebab makhluk niskala juga membutuhkan energi (power) dari beberapa jenis persembahan untuk melindungi penghuni rumah. Makhluk niskala akan menjadi setia jika si penghuni rumah benar dalam penempatannya dan dengan memberikan persembahan secara rutin sebagai ungkapan terimakasih atas kuasa dan kekuatannya telah memberikan perlindungan setiap saat.

Pada umumnya orang akan memperkejakan manusia (makhluk sekala) untuk menjaga rumah, tetapi masyarakat Hindu di Bali juga menempatkan makhluk niskala sebagai penjaga rumah. Percaya atau tidak, makhluk niskala sebagai Penunggun Karang akan memberikan perlindungan maksimal, baik secara sekala dan niskala.

Banyak yang tidak mengetahui bahwa Tugu Karang itu sesungguhnya merupakan gerbang bagi makhluk niskala yang datang dari dunia niskala ke sekala. Hingga, jika manusia berkehendak memasuki dimensi niskala, harus melewati pintu ini. Bahkan roh manusia ketika terlepas dari raganya terlebih dahulu harus memohon ijin kepada Penunggun karang, agar berkenan membukakan pintu niskala. Hal ini dapat dibuktikan, jika dimana ada kematian datanglah ke Tugu Karangnya dan jika anda peka, maka akan didengar isak tangis roh yang mendayu-dayu dan sedih harus meninggalkan raganya, terutama bagi orang yang mati ulah pati dan salah pati. Ini hanya akan dilihat bagi mereka yang waskita, karena belajar olah bathin atau bisa juga karena melik (istimewa) kelahiran.

Makhluk niskala ini lebih canggih dari CCTV, bahkan mampu merekam kejadian atau kondisi niskala dan sekala dengan baik. Oleh sebab itu, jangan sekali-kali kita mengira gila, jika ada orang atau balian (dukun tradisional di Bali) yang berbicara dengan Penunggun Karang untuk mendiagnosa penyakit penghuni rumah dan yang lainnya.

Tidak hanya itu, ternyata Tugu Karang memiliki peran penting untuk melindungi penghuni rumah, jika ada serangan gaib, baik desti, teluh dan terangjana atau sejenisnya. Bagi penekun desti (ilmu hitam), untuk mengirim teluh dan destinya kepada target terlebih dahulu ia harus memohon kepada Hyang Nini Bhairawi di pemuhun setra (kuburan). Atas perintah Hyang Nini, maka pasti disuruhlah si penekun desti ini meminta ijin kepada Penunggun Karang si target jika mau mengirim teluh dan destinya ke sasaran. Jika Penunggun Karang tidak memberikan ijin dan tak berkenan, maka si penekun desti itupun tidak akan bisa berbuat apa-apa, bahkan Hyang Bhatari juga tak bisa menolongnya. Betapapun kesaktian si penekun desti jika Penunggun Karang tidak mengijinkan, maka teluh dan destinya akan sia-sia, sebab Penunggun Karang akan membentengi melalui kekuatan niskala kepada seluruh penghuni rumah sehingga senjata desti akan dineteralisir.

Pengamatan penulis terhadap perlawanan Penunggun Karang, jika ada orang berniat jahat juga demikian dalam dunia sekala, sebab Penunggun Karang memiliki kekuatan yang luar biasa hebatnya. Percaya atau tidak, kekuatannya mampu membuat orang linglung, bingung dan yang lainnya. Bahkan kekuatannya mampu menghentikan seketika orang berbuat jahat berbalik menjadi baik dan welas asih terhadap penghuni rumah. Menariknya, Penunggun Karang mampu membuat perlindungan dengan tipuan maya. Bisa membuat rumah penghuni seolah-olah nampak menjadi lautan sehingga orang yang berniat jahat lari tunggang-langgang. Bahkan Penunggun Karang, dapat membuat orang yang berniat jahat berjalan sepanjang hari mengitari pekarangan rumah itu tidak menemukan jalan pulang. Anehnya lagi, Penunggun Karang mampu memunahkan dengan seketika perkakas seseorang  yang berniat jahat. Termasuk penekun Pawang Hujan di Bali juga biasanya meminta pertolongan Penunggun Karang jika ingin membuat Hujan dan Terang.

Namun, belakangan kita yang campah (acuh) dengan kekuatan makhluk niskala yang ada di Tugu Karang. Bahkan kebanyakan dari kita mempertanyakan kembali sumber kebenaran dari keyakinan tersebut. Anehnya, banyak dari kita berspekulasi bahwa kepercayaan itu adalah kepercayaan sesat dan bertentangan dengan doktrin Weda. Ada kelompok tertentu, justru sengaja menghancurkan Pelinggih Tugu Karang menggantikannya dengan citra lain yang justru “kurang pas” dengan kepercayaan lokal Bali.

Tugu Karang berasal dari kata “tuhu” yang artinya tahu atau mengetahui dan berpengetahuan. Karang artinya pekarangan atau halaman rumah bisa juga karang diri atau tubuh. Siapa yang memahami dan mengetahui karang dirinya dengan baik, maka ia adalah yang mencapai keseimbangan niskala-sekala. Dalam mistik kadyatmikan dan kawisesan, Tugu Karang adalah bijaksara mantra yang utama. Tugu adalah Tang, Ang dan Ung; diringkas menjadi Karang, yakni Ang dan Ah. Dimana Ang dan Ah adalah dwiaksara simbol kehidupan dan kematian.


Akan tetapi, jika ditelisik lebih jauh, Penunggun Karang sesungguhnya memiliki hubungan dengan Tepuk Kanda (Kanda Pat) yaitu empat saudara (keluarga) spiritual dari setiap orang Bali. Kata "keluarga" yang dimaksud di sini bisa berupa fisik keluarga yang tinggal dalam dinding-dinding rumah atau senyawa untuk Pat Kanda - keluarga mistis yang tinggal di alam mistis.

Dalam lontar Sudamala disebutkan bahwa Sang Brahman (Tuhan Yang Maha Esa), turun ke semesta dengan dua perwujudan yaitu Sang Hyang Wenang dan Sang Hyang Titah. Setelah itu beliau memiliki fungsi sebagai berikut :

Hyang Titah menguasai alam Mistis termasuk didalamnya alam Dewa dan Bhuta kala, sorga dan neraka bergelar Bethara Siwa yang kemudian menjadi Hyang Guru, sedangkan Hyang Wenang turun ke mercapada, dunia fana ini berwujud semar atau dalam Susastra Bali disebut Malen, yang akan mengemban dan mengasuh isi dunia ini. Aplikasinya, Hyang Titah berstana di “hulu” yaitu komplek Sanggah Pemerajan, sedangkan Hyang Wenang berstana di “Teben” yaitu di komplek Bangunan Perumahan berupa Sedahan Karang. Mengenai bentuk bangunan juga menyerupai penokohan yang berstana didalamnya. Misalnya: stana Hyang Guru selalu diidentikan dengan kemewahan dan diatasnya menggunakan tutup “Gelung Tajuk” atau sejenisnya sebagai perlambang penguasa sorga. Sedangkan Sedahan Karang bentuknya menyerupai bentuk pewayangan “Malen” yaitu sederhana tapi kekar dengan atasan menyerupai hiasan “Kuncung” seperti bentuk ornament kepala dari wayang semar.

Sementara  dalam lontar Kala Tatwa disebutkan bahwa Ida Bathara Kala bermanifestasi dalam bentuk Sedahan Karang / Sawah / Abian dengan tugas sebagai Pecalang, sama seperti manifestasi beliau di Sanggah Pamerajan atau Pura dengan sebutan Pangerurah, Pengapit Lawang atau Patih.

Di alam madyapada, bumi tidak hanya dihuni oleh makhluk-makhluk yang kasat mata saja, tetapi juga oleh makhluk-makhluk yang tidak kasat mata, atau roh. Roh-roh yang gentayangan misalnya roh jasad manusia yang lama tidak di-aben, atau mati tidak wajar misalnya tertimbun belabur agung (abad ke 18) akan mencari tempat tinggal dan saling berebutan. Maka untuk melindungi diri dari gangguan roh-roh gentayangan, manusia membangun Palinggih Sedahan.

Karena fungsinya sebagai Pecalang, sebaiknya berada dekat pintu gerbang rumah atau di pojok Barat Laut pekarangan rumah. Jika tidak memungkinkan boleh didirikan di tempat lain asal memenuhi aspek kesucian.

Pada lontar Kala Tatwa ini juga disinggung mengenai lahirnya Dewa Kala yang merupakan cikal bakal dari Sedahan Karang, dimana Dewa Kala dikatakan lahir saat hari Kajeng Kliwon nemu hari Saniscara (Sabtu) yang di Bali dengan istilah “Tumpek”. Hingga odalan Sedahan Karang disarankan disesuaikan dengan hari kelahiran dari Dewa yang berstana disana yaitu saat “Tumpek”. Untuk itu silahkan dipilih Tumpek yang mau dijadikan odalan Sedahan Karang dari sekian banyak hari raya Tumpek di Bali untuk menghormati keberadaan Dewa Kala.

Berikut, dalam Lontar Asta Kosala Kosali dan Asta Bhumi dimana pekarangan rumah biasanya dibagi menjadi sembilan, yakni dari sisi kiri ke kanan; nista, madya dan utama serta dari sisi atas ke bawah; nista, madya dan utama. Sehingga terdapat 9 bayangan kotak pembagian pekarangan rumah. adapun pembagian posisi tersebut antara lain :

Posisi utamaning utama adalah tempat "Sanggah Pemerajan" posisi madyaning utama adalah tempat "Bale Dangin" posisi nistaning utama adalah tempat "Lumbung atau klumpu" posisi madyaing utama adalah tempat "Bale Daje atau gedong" posisi madyaning madya adalah tempat "halaman rumah" posisi nistaning madya adalah tempat "dapur atau pawon / pasucian" posisi nistaning Utama adalah tempat "Sedahan Karang" posisi nistaning Madya adalah tempat "bale dauh, tempat tidur" posisi nistaning Nista adalah tempat "cucian, kamar mandi dll" biasanya digunakan tempat garase sekaligus "angkul-angkul atau gerbang rumah".

Setelah mengetahui posisi yang tepat sesuai dengan Asta Bhumi di atas untuk posisi sedahan karang, selanjutnya menentukan letak bangunan Sedahan Karang tersebut yaitu dengan mengunakan perhitungan Asta Kosala Kosali, dengan sepat atau hitungan tampak kaki atau jengkal tangan. Perhitungannya dengan konsep Asta Wara (Sri, Indra, Guru, Yama, Rudra, Brahma, kala, Uma). Adapun perhitungannya : untuk pekarangan yang luas (sikut satak), melebihi 4 are atau sudah masuk perhitungan "sikut satak", posisi Sedahan Karang dihitung dari utara menuju Kala (7 tampak) dan dari sisi barat menuju Yama (4 tampak). Adapun alasannya adalah, sesuai dengan fungsi Sedahan Karang yaitu sebagai pelindung dan penegak kebenaran yang merupakan di bawah naungan dewa Yama Dipati (hakim Agung Raja Neraka), serta tetap sebagai penguasa waktu dan semua kekuatan alam yang merupakan dibawah naungan Dewa Kala. Ini dimaksudkan agar Sedahan Karang berfungsi maksimal sesuai dengan yang telah diterangkan di atas tadi. Untuk pekarangan sempit yaitu pekarangan yang kurang dari 4 are seperti BTN, posisi Sedahan Karang dihitung dari utara  dan barat cukup menuju Sri atau 1 tampak saja, dengan maksud agar bangunan tersebut tetap berguna walaupun tempatnya cukup sempit, akan tetapi dari segi fungsi tetap sama.

Menurut Jro Mangku Suardana (salah satu penulis Buku Tatwa Liak di Bali), rumah dikatakan sebagai replika kehidupan kemasyarakatan. Dimana setiap bangunan rumah adat Bali tersebut memiliki fungsi yang sangat mirip dengan fungsi bangunan / pura di tingkat desa pakraman, diantaranya :

Sanggah Pemerajan merupakan Sorga, tempat berstana dan berkumpulnya Ista Dewata / Dewata Nawa Sanga, atau merupakan simbol Pura Dalem, Bale Dangin merupakan simbol Bathara Guru, dimana setiap upacara adat selalu diselenggarakan di bale ini, sehingga bale ini sering juga disebut bale bali (bali = wali = upacara), Bale Daja merupakan simbol Bathara Sri Sedhana, simbol kewibawaan, tempat penyimpanan harta benda, sehingga sering juga disebut dengan istilah Gedong, atau Bale penangkilan (tempat tamu menunggu), Bale Dauh merupakan simbol Dewa Mahadewa, balai sosial tempat beristirahat, Bale Delod biasanya digunakan sebagai dapur atau pawon, merupakan simbol Dewa Brahma atau Dewa Agni, merupakan sumber pembakaran, pemunah tapi merupakan sumber kesejahtraan, Sumur merupakan simbol Dewa Wisnu yang merupakan pemelihara lingkungan rumah, Bale Lumbung atau Klumpu, merupakan simbol Dewi Sri, tempat menyimpan makanan, Lebuh tempat ditanamnya Ari-ari, merupakan simbol Hyang Bhairawi, penguasa kuburan Sedahan Karang merupakan simbol Hyang Durga Manik, merupakan Pura Prajapati-nya atau ulun kuburan di rumah. Jadi simbolis Hulu adalah Pura Dalem (Sanggah Pemerajan), Teben adalah Lebuh Natah, tempat ari-ari yang memiliki pura Prajapati bernama Sedahan Karang.

Yang perlu diperhatikan adalah, bangunan Palinggih Sedahan harus memenuhi syarat : Pondamennya batu dasar terdiri dari dua buah bata merah masing-masing merajah “Angkara” dan “Ongkara” sebuah batu bulitan merajah “Ang-Mang-Ung”; berisi akah berupa tiga buah batu : merah merajah “Ang”, putih merajah “Mang” dan hitam merajah “Ung” dibungkus kain putih merajah Ang-Ung-Mang, di madia berisi pedagingan: panca datu, perabot tukang, jarum, harum-haruman, buah pala, dan kuwangen dengan uang 200 kepeng, ditaruh di kendi kecil dibungkus kain merajah padma dengan panca aksara diikat benang tridatu, di pucak berisi bagia, orti, palakerti, serta bungbung buluh yang berisi tirta wangsuhpada Pura.

Persyaratan ini ditulis dalam Lontar Widhi Papincatan dan Lontar Dewa Tatwa. Jika palinggih sedahan tidak memenuhi syarat itu, yang melinggih bukan Bhatara Kala, tetapi roh-roh gentayangan itu antara lain Sang Butha Cuil.

Jika sedahan karang di-urip dengan benar, maka fungsi-Nya sebagai Pecalang sangat bermanfaat untuk menjaga ketentraman rumah tangga dan menolak bahaya sehingga terwujudlah rumah tangga yang harmonis, bahagia, aman tentram dan penuh kedamaian. Maka hendaknya tidak main-main atas penempatan maupun keberadaan Pengunggun Karang ini - Semoga Bermanfaat. (JMS)

Om Santih, Santih, Santih Om

Jumat, 07 Oktober 2016

Mengapa Orang Suka Meditasi


Jembrana (Wisma Berita)

Berbagai kalangan mengklaim meditasi dapat menenangkan hati dan pikiran. Demikian juga diungkapkan Jro Mangku Suardana, salah seorang Pemangku (pemimpin persembahyangan Umat Hindu) di Pura Tirtha Dangkahyangan Luhur Rambutsiwi, Jumat (7/10/16).

Kebiasaan menjalani meditasi telah dilakukan Jro Mangku Suardana selama lebih tujuh tahun belakangan ini hingga dirinya juga memutuskan mengurangi konsumsi daging guna melancarkan upayanya. "Saya mendapatkan banyak sekali manfaat dari meditasi, baik secara fisik maupun mental," ungkapnya.

Ia menjelaskan, setelah melakukan meditasi beberapa kebiasaan buruk bisa dia tangani, seperti insomnia yang sudah lama dialami menjadi hilang sama sekali, sifat tempramen yang bahkan hingga berujung bisa melemparkan barang kini bisa dikontrol dengan cara menenangkan diri sendiri dan suasana hati yang naik turun tak jelas bisa stabil dengan lebih lama.

Namun demikian, ia mengaku bahwa perubahan tersebut tak instan didapatkan, dibutuhkan waktu relatif untuk bisa bersahabat dengan emosinya dan pria yang sudah berumur lebih dari 40 tahun tersebut membutuhkan waktu sekitar tiga tahun pertama untuk mencapai hasil seperti yang dijelaskan di atas.

Ada banyak cara ataupun tehnik meditasi yang ditawarkan dan bisa membantu mengoptimalkan efek meditasi, seperti misalnya menggunakan musik meditasi dan aroma terapi, dan sebagainya.

"Meditasi adalah pelatihan pikiran, dimana saya belajar tenang menghadapi masalah dalam kondisi apapun," katanya.

Menurutnya, ada beberapa tips sederhana bagi mereka yang ingin mencoba untuk melakukan meditasi, diantaranya :

1.  Jadikan Meditasi Sebagai Aktivitas Pertama Anda Di Pagi Hari. Biasakanlah untuk melakukan meditasi setelah anda bangun tidur, sebelum anda melakukan hal-hal lain seperti menyiapkan sarapan atau membereskan kamar tidur anda. Mengawali aktivitas anda dengan meditasi bisa membuat anda merasa tenang sepanjang hari sekaligus menyingkirkan mimpi-mimpi buruk yang anda alami selama anda tidur semalaman. Secara psikologis, melakukan meditasi di pagi hari juga terbukti efektif untuk mengurangi rasa khawatir, cemas, dan takut menghadapi hari yang baru.

2.  Mulai Meditasi Dengan Fokus Pada Pernapasan. Inti utama dari meditasi adalah cara anda bernafas. Awalilah meditasi anda dengan berfokus pada cara anda bernafas. Bernafaslah dengan pelan, ambil nafas dalam-dalam, hembuskan secara perlahan, dan rasakan iramanya seiring dengan detak jantung anda. Jika pernapasan sudah bisa diatur dengan baik, maka anda sudah menapaki 50 persen tahap meditasi.

3.  Lakukan Sedikit Pemanasan Sebelum Meditasi. Hal ini bisa membuat tubuh anda merasa lebih nyaman ketika harus duduk fokus saat melakukan meditasi.  Ada beberapa pemanasan yang sangat membantu proses meditasi, di antaranya adalah "stretching". Proses ini bisa dilakukan sambil berbaring atau duduk, dan ingat untuk tidak melakukannya secara berlebihan karena bisa membuat anda justru kelelahan sebelum bermeditasi.

4.  Meditasi Adalah MEMFOKUSKAN Pikiran, Bukan Mengosongkan Pikiran. Konsep ini terutama harus dipahami bagi anda yang baru akan melakukan meditasi. Meditasi adalah sebuah proses aktif yang akan bermanfaat apabila anda fokus pada tujuan.  Lakukanlah meditasi sebagai aktivitas dengan tujuan tertentu, misal untuk menenangkan pikiran, relaksasi, atau menghilangkan stress.  Jangan mengosongkan pikiran pada saat meditasi. Anda justru harus fokus pada satu hal, misal irama nafas anda, detak jantung anda, atau mungkin figur Sang Pencipta.

5. Disiplin. Cobalah untuk melakukan meditasi secara rutin agar manfaatnya lebih terasa. Jangan mudah untuk mencari-cari alasan untuk melewatkan meditasi harian anda. Dengan melakukan meditasi secara disiplin, anda tidak hanya akan merasakan manfaat secara psikologis, namun juga secara fisik.

6.  Eksperimen. Cobalah untuk melakukan berbagai eksperimen dalam teknik meditasi anda. Cobalah untuk bermeditasi dari teknik yang paling konvensional seperti bersila, hingga tehnik-teknik yang lebih spesifik seperti dalam Meditasi Yoga, Meditasi Cakra, atau Meditasi Lotus. Selama eksperimen, anda akan menemukan teknik meditasi yang mungkin paling nyaman bagi anda dan bisa digunakan untuk jangka panjang.

7.  Sediakan Tempat Khusus Untuk Meditasi. Tak perlu satu ruangan besar, mungkin hanya di salah satu pojok kamar anda, atau di sudut tertentu teras rumah atau bahkan lebih baik jika bisa dilakukan pa?a alam terbuka. Dengan melakukan hal ini, anda tentunya akan bisa lebih fokus dalam melakukan meditasi dan akan merasa melakukan kegiatan yang lebih spesial. Pastikan pula kebersihan tempat meditasi anda dari berbagai kotoran dan debu.

8.  Nyalakan Lilin Atau Dupa. Teknik ini berguna sekali untuk meningkatkan fokus anda. Terutama bagi pemula, berfokus pada satu titik dengan mata terpejam akan sedikit susah. Untuk mengakalinya, anda bisa menyalakan sebatang Lilin atau Dupa dan menjadikannya sebagai titik fokus pandangan mata anda selama bermeditasi. Akan lebih baik jika anda membeli Lilin atau Dupa yang menebarkan aroma terapi jika dinyalakan.

9.  Manfaatkan Musik Meditasi. Anda bisa memanfaatkan musik-musik meditasi yang bisa membantu anda lebih merasa nyaman dalam meditasi. Ada yang berupa instrumental, nyanyian, ada pula musik suara alam yang membuat anda seolah-olah sedang bermeditasi di tengah hutan. Pilih satu musik yang bisa membuat anda benar-benar bisa merasa rileks saat melakukan meditasi.

"Nikmati Proses Meditasi Anda. Jangan merasa stress atau terbebani. Jangan terburu-buru pula untuk menilai hasil meditasi anda. Ingat, meditasi adalah sebuah proses jangka panjang yang manfaatnya akan terasa secara signifikan apabila anda melakukannya secara teratur. Pastikan untuk menjadikan meditasi sebagai aktivitas yang menyenangkan di tengah kesibukan harian anda," jelas Jro Mangku Suardana - Semoga Bermanfaat. (JMS)

Semarak, TMMD Saat Gelar Panggung Hiburan


Pekutatan (Wisma Berita)

Dalam rangka menyukseskan dan memeriahkan TMMD ke 97 tahun 2016 serta mempererat hubungan silahturahmi antara TNI dan masyarakat, Satgas TMMD Kodim 1617/Jembrana selaku penyelenggara TMMD ke-97 tahun 2016 di Dusun Serong, Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, Kamis (6/10/2016) malam juga menggelar panggung hiburan yang disentralkan di lapangan umum Desa Gumbrih.

Dari hasil pantauan, tampak lebih dari seribu orang warga membanjiri lokasi guna menyaksikan pagelaran panggung hiburan yang menampilkan beberapa kesenian khas Bali diantaranya tari Bondres, yakni tarian Kolaborasi Lawak dan tari Joged Bungbung ialah semacam tarian Joged Saweran.


Panggung hiburan yang dihadiri langsung oleh Dandim 1617/Jembrana, Letkol Kav Hendra Ferdinandus selaku Komandan Satgas TMMD, Kasdim 1617/Jembrana Mayor Inf Nanang Sulistiyo, Danramil 1617-04/Pekutatan Kapten Inf Supena selaku Komandan SSK TMMD, Kapolsek Pekutatan Kompol I Ketut Sugiarta, Camat Pekutatan I Ketut Eko Susila, Pasi Intel Koim 1617/Jembrana Kapten I Nyoman Gede Andika, Pasi Ter Kodim 1617/Jembrana Kapten Inf Yudana dan Pasi Log Kodim 1617/Jembrana Kapten Chb Karianto serta Kepala Desa Gumbrih I Ketut Nurjana itu mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat sekitar. "Saya sangat menikmati acara panggung hiburan ini, acaranya bagus dan meriah sekali," terang I Ketut Widiana (45) salah seorang warga Desa Gumbrih yang menonton.

Hal senada disampaikan warga lainnya, "kami merasa terhibur sekali atas diselenggarakannya acara ini, sehingga sedikitpun tidak melewatkan acara demi acara yang dipentaskan", jelas I Wayan Metra (49) mewakili semua keluarganya yang juga ikut menonton.

Malam yang semakin larut kian membuat semarak para penonton saat panggung hiburan menampilkan goyangan para artis kota Jembrana dalam pagelaran orkes musik disusul patah-patah Joged Komando dari sekelompok prajurit TNI di antara para penonton.


Dalam sambutannya, Dandim 1617/Jembrana selaku Komandan Satgas TMMD tersebut menyatakan apresiasi yang sedalam-dalamnya saat membuka acara tersebut. "Kami ucapkan banyak terima kasih kepada masyarakat Desa Gumbrih serta masyarakat Desa Pengeragoan dan sekitarnya, selama ini kita bisa melaksanakan gotong royong serta menjalin kerjasama yang baik dalam mewujudkan pelaksanaan TMMD ini baik pada sasaran yang bersifat fisik diantaranya pembangunan jembatan, bedah rumah dan jambanisasi maupun pada kegiatan non fisik yang diisi berbagai penyuluhan dengan melibatkan pihak-pihak instansi terkait, seperti penyuluhan Kamtibmas oleh anggota Polres Jembrana, penyuluhan Bela Negara, penyuluhan Pertanian, Peternakan maupun Kependudukan oleh Pemkab Jembrana hingga Siskamling, serta olah raga bersama," jelas Dandim.

Menurutnya, acara panggung hiburan itu sengaja digelar sebagai wujud Kemanunggalan TNI-Rakyat serta memberikan hiburan kepada segenap masyarakat termasuk para peserta TMMD ke 97 di Kabupaten Jembrana tersebut. "Tujuan kegiatan ini digelar guna semakin mempererat keakraban antara TNI dengan seluruh elemen masyarakat sehingga kian terjalin hubungan silaturahmi dan persaudaraan serta tumbuhnya rasa persatuan yang semakin kuat demi mewujudkan kemanunggalan TNI dengan Rakyat," imbuh Dandim.

Sementara itu, Kepala Desa Gumbrih, I Ketut Nurjana juga berharap hubungan antara warganya dengan TNI pada umumnya senantiasa dapat terpelihara dengan baik dan akan terus berlanjut. "Kami merasa terharu dan satu kehormatan kami memperoleh program TMMD ini sehingga kami dapat menikmati pembangunan jalan, jembatan dan banyak lagi sasaran tambahan lainnya serta berbagai penyuluhan, olah raga bahkan sampai panggung hiburan," jelasnya seraya menutup acara saat menjelang tengah malam. (JMS)

Rabu, 05 Oktober 2016

TNI Juga Gelar Olah Raga Bersama Masyarakat Dalam TMMD


Pekutatan (Wisma Berita)

Di sela-sela aktifitas TMMD ke-97 yang digelar di Dusun Serong, Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana oleh Satgas TMMD Kodim 1617/Jembrana, dimana selain melaksanakan kegiatan bersifat fisik diantaranya pembangunan jembatan, bedah rumah dan jambanisasi serta kegiatan non fisik yang diisi berbagai penyuluhan dengan melibatkan pihak-pihak instansi terkait, seperti penyuluhan Kamtibmas oleh anggota Polres Jembrana, penyuluhan Bela Negara, penyuluhan Pertanian, Peternakan maupun Kependudukan oleh Pemkab Jembrana hingga Siskamling, para prajurit juga menggelar olah raga bersama dengan masyarakat setempat.

Kegiatan olah raga bersama masyarakat yang digelar kali ini, Rabu (4/10/16) adalah olah raga jenis Bola Voly yang dimainkan para prajurit gabungan TNI dan Polri yang terlibat dalam pelaksanaan TMMD dengan Tim Bola Voly masyarakat setempat yang dinamai Team Osiwa.

"Kita sengaja menggabungkan para pemainnya agar semakin terjalin kerjasama yang baik antara TNI, Polri dan masyarakat”, jelas Danramil 1617-04/Pekutatan (Kapten Inf Supena) selaku Komandan SSK TMMD Kodim 1617/Jembrana.

Sedangkan Kepala Desa Gumbrih, I Ketut Nurjana didampingi Bendesa Adat Gumbrih, I Made Sugatra yang juga turut hadir menyaksikan pertandingan tersebut mengaku sangat senang melihat warganya yang dulunya ada jarak, namun sekarang sejak adanya TMMD ini menjadi semakin tumbuh keakraban dengan TNI juga Polri.

Sementara di lain sisi, Dandim 1617/Jembrana, Letkol Kav Hendra Ferdinandus selaku Komandan Satgas TMMD Kodim 1617/Jembrana saat dikonfirmasi membenarkan kegiatan tersebut. "Kebetulan moment ini adalah bertepatan dengan rangkaian HUT TNI ke 71 dan hal ini dilakukan, tidak lain adalah dalam rangka meningkatkan kekompakkan bersama masyarakat demi terwujudnya ikatan emosional yang baik hingga tercapai kemanunggalan TNI bersama masyarakat," terang Dandim. (JMS)