Rabu, 14 Desember 2016

Dukung Timnas, Kodim Gelar Nobar Piala AFF


Jembrana (Wisma Berita)

Menindaklanjuti instruksi dari Panglima TNI kepada seluruh jajaran TNI di tanah air agar melaksanakan kegiatan nonton bareng (nobar) pertandingan Final Piala AFF antara Tim Nasional (Timnas) Indonesia dengan Thailand, Rabu (14/12) malam Kodim 1617/Jembrana beserta jajarannya menggelar acara nobar di beberapa lokasi, salah satunya di aula Markas Kodim 1617/Jembrana.

Dalam kesempatan itu, Dandim 1617/Jembrana, Letkol Kav Hendra Ferdinandus mengatakan dimana acara nobar dimulai pukul 19.00 Wita adalah sebagai wujud dukungan nyata dari TNI kepada Timnas. "Nonton bareng juga dilakukan di setiap Koramil jajaran Kodim 1617/Jembrana. Meskipun tidak dapat secara langsung menyaksikan pertandingan yang digelar di Stadion Pakasari, Cibinong, Bogor, dari sini kita doakan Timnas unggul dalam pertandingan," jelas Dandim.


Di samping didahului dengan menggelar doa bersama yang dipimpin langsung oleh Dandim 1617/Jembrana, Letkol Kav Hendra Ferdinandus diikuti para anggota TNI, PNS, Persit KCK maupun segenap Keluarga Besar Kodim 1617/Jembrana untuk kemenangan Timnas Indonesia, mereka juga diinstruksikan mengenakan ikat kepala warna Merah Putih sebagai simbol kebangsaan Indonesia serta menggelar spanduk berlambangkan burung Garuda Pancasila dan bertuliskan "Nonton Bareng Kodim 1617/Jembrana, Majulah Garudaku, Garuda Di Dadaku".


Dari hasil pantauan, nobar berlangsung sangat meriah. Teriakan dukungan terhadap Timnas terus digaungkan hingga akhir pertandingan bersama kemenangan gemilang bagi Timnas dengan score 2-1. (JMS)

Senin, 05 Desember 2016

Pujawali Pura Dangkahyangan Luhur Rambutsiwi Digelar Sederhana


Jembrana (Wisma Berita)

Berbagai persiapan telah dilakukan oleh pihak Pangempon dan para Pemangku dalam rangka pelaksanaan persembahyangan bersama (Pujawali) di Pura Dangkahyangan Luhur Rambutsiwi.

I Gusti Made Sedana selaku pelaksana harian Ketua Pengempon Pura Dangkahyangan Luhur Rambutsiwi menjelaskan, seperti biasa dimana Pujawali di Pura Dangkahyangan Luhur Rambutsiwi digelar setiap 6 bulan sekali selama lima hari yakni di mulai sejak hari Rabu pancawara Umanis hingga Minggu pancawara Kliwon wuku Perangbakat, yang mana untuk Pujawali sekarang tepatnya akan digelar sejak tanggal 7 hingga 11 Desember tahun ini. Namun menjelang pelaksanaan Pujawali, berbagai persiapan telah dilakukan diantaranya dimulai dari rapat pihak Pangempon dan Pekandel untuk membentuk Panitia Pujawali. Setelah itu, Panitia Pujawali inilah yang selanjutnya akan menyiapkan segala sesuatunya termasuk menyusun rangkaian (dudonan) Pujawali, diawali dari Matur Piuning (ritual permakluman) dilanjukan Nunas Tirtha di beberapa Pura Kahyangan Jagad yang ada di Bali, temasuk nunas Tirtha di Segara (Laut) Rambutsiwi bersamaan dengan melaksanakan ritual Pecaruan Pamehayu Segara yakni ngaturang Pakelem berupa ayam dan bebek warna Hitam sebagai ritual kurban kepada Dewa Wisnu dan Dewa Baruna selaku Dewa penguasa lautan dipimpin Jro Mangku Suardana selaku Pemangku Pura Tirtha dan Segara Dangkahyangan Luhur Rambutsiwi.

Setelah semua Tirtha dari beberapa Pura Kahyangan Jagad terkumpul, kemudian Tirtha tersebut disemayamkan di Pura Taman Dangkahyangan Luhur Rambutsiwi dan sehari menjelang pembukaan Pujawali akan digunakan sebagai pesucian Ida Bhatara Sesuhunan sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widi Wasa yang distanakan di Pura Dangkahyangan Luhur Rambutsiwi.

Keseokan harinya, tepat hari Rabu pancawara Umanis wuku Perangbakat (7/12) barulah dilaksanakan ritual puncak Pujawali yang akan dipimpin beberapa Sulinggih (Pendeta) untuk selanjutnya hingga hari Minggu pancawara Kliwon wuku Perangbakat (11/12) akan digelar persembahyangan bersama dipimpin para Pemangku dari masing-masing Perahyangan yang ada di Pura Dangkahyangan Luhur Rambutsiwi, diakhiri ritual Penyineban Pujawali diiringi pementasan tarian Tupeng Sidakarya dan Pependetan tepat pukul 00.00 Wita.

Di kawasan Pura Dangkahyangan Luhur Rambutsiwi terdapat sebanyak sembilan Perahyangan dan persembahyangan diawali dari Pura Pesanggrahan yang terletak di sebelah Selatan pinggir jalan raya Denpasar-Gilimanuk wilayah Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, selanjutnya di Pura Taman, kemudian di Pura Penataran, Pura Goa Dasar, Pura Tirtha lan Segara, Pura Melanting, Pura Pasimpangan Gading Wani, Pura Pasimpangan Dalem Ped dan terakhir di Pura Luhur.

"Pura Dangkahyangan Luhur Rambutsiwi adalah salah satu Pura Kahyangan Jagad di Bali, sehingga umat yang melakukan persembahyangan bukan saja umat yang ada di Bali melainkan seluruh umat Hindu yang ada. Namun demikian, prosesi penyelenggaraan Pujawali tetap dilakukan secara sederhana di tingkat Madya dengan upakara Banten Pulagembal, kecuali jatuhnya Pujawali bertepatan dengan hari bulan Purnama baru akan dilaksanakan Pujawali di tingkat Utama." jelas I Gusti Made Sedana. (JMS)

Peringati Hari Juang Kartika, Kodim Gelar Kegiatan Bhakti Sosial Donor Darah


Jembrana (Wisma Berita)

Dalam rangka memperingati hari Juang Kartika tahun ini, Senin (5/12) Kodim 1617/Jembrana menggelar kegiatan bhakti sosial donor darah.

Kegiatan donor darah disentralkan di aula Kodim 1617/Jembrana dipimpin oleh Dr. I Komang Rai Widiastika dari Dinas Kesehatan PMI Kabupaten Jembrana yang diantaranya diikuti Kasdim 1617/Jembrana Mayor Inf Ngakan Made Marjana, Kaminvetcad 23/Negara Mayor Kav Fatchur R, para Danramil jajaran Kodim 1617/Jembrana beserta Perwira Staf, anggota Kodim 1617/Jembrana, anggota Kipan C Yonif 900/Raider, anggota Yonif Mekanis 741/GN dan anggota Minvetcad 23/Negara.

Dr. I Komang Rai Widiastika dari Dinas Kesehatan PMI Kabupaten Jembrana selaku pimpinan kegiatan mengatakan, dari sebanyak 37 orang anggota yang mendaftar seluruhnya dinyatakan sehat sehingga semua bisa melakukan donor darah. "Donor darah sejatinya harus sering dilakukan karena dengan berdonor maka secara tidak langsung tubuh akan memproduksi darah baru, sehingga dengan rajin berdonor akan dapat menjadikan tubuh kita semakin sehat", terang Dr. I Komang Rai Widiastika kepada para peserta di sela-sela kegiatan tersebut .


Sementara itu, Kasdim 1617/Jembrana Mayor Inf Ngakan Made Marjana seizin Dandim 1617/Jembrana Letkol Kav Hendra Ferdinandus menyampaikan ucapan terimakasih kepada para anggota yang dengan sukarela telah dapat melakukan donor darah untuk disumbangkan kepada PMI yang nantinya akan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan darah. "Kegiatan donor darah ini dilakukan, disamping sebagai salah satu wujud kepedulian TNI terhadap masyarakat juga untuk meningkatkan rasa persaudaraan antar sesama karena dengan setetes darah yang kita donorkan itu berarti telah memberikan sumbangsih kepada sesama kita yang membutuhkan pertolongan," jelasnya.

Adapun rincian darah sesuai golongan yang diperoleh dari kegiatan donor tesebut diantaranya golongan darah O sebanyak 14 orang, golongan darah B sebanyak 8 orang, golongan darah AB sebanyak  3 orang. golongan darah A sebanyak 7 orang dan ada sebanyak 5 orang peserta yang belum diketahui golongan darahnya karena yang bersangkutan baru pertama kali pernah melakukan donor darah. (DUMP)

Sabtu, 03 Desember 2016

Peringati Hari Menanam Pohon Indonesia, Kodim Prakarsai Tanam 5000 Bibit Pohon


Jembrana (Wisma Berita)

Dalam rangka memperingati hari menanam pohon Indonesia, Kodim 1617/Jembrana dipimpin Dandim Jembrana Letkol Kav Hendra Ferdinandus, Sabtu (3/12) pagi menggelar karya bhakti menanam pohon di pesisir pantai Banjar Taman, Desa Tuwed, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali.

Karya bhakti melibatkan segenap masyarakat beserta instansi terkait diantaranya Pemkab Jembrana dan Polres Jembrana beserta para jajarannya.

Hadir dalam kegiatan tersebut diantaranya Bupati Jembrana I Putu Artha, Kapolres Jembrana AKPB Djoni Widodo, Danramil Melaya, Kapolsek Melaya, Camat Melaya, Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Kehutanan Kabupaten Jembrana, Kopdapala (Komunitas Petualangan Dan Pelestarian Alam), Perbekel Tuwed beserta warga masyarakat sekitar dengan jumlah keseluruhan sekira 500 orang.

Dalam kegiatan tersebut, Bupati Jembrana I Putu Artha menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh anggota TNI yakni Kodim 1617/Jembrana beserta jajarannya dan Polri dari Polres Jembrana maupun segenap masyarakat yang telah hadir dan menyempatkan waktu dan ikut membantu dalam pelaksanaan kegiatan penanaman pohon tersebut.

Menurutnya, Desa Tuwed adalah wilayah yang memiliki pesisir pantai sangat indah hingga diharapkan peran serta segenap pihak dapat ikut bersama-sama untuk memelihara dan melestarikannya. "Kami menghimbau jangan sampai ada pihak-pihak yang mengizinkan warga untuk mendirikan gubuk-gubuk liar di sepanjang sepadan pantai wilayah Kabupaten Jembrana," tegas Bupati Jembrana. (JMS)

Kamis, 01 Desember 2016

Danramil Serahkan Jamban TNI Untuk KK Miskin


Negara (Wisma Berita)

Danramil 1617-01/Negara Kapten Inf I Gusti Nyoman Mawan, Kamis (1/12) menyerahkan jamban dalam program jambanisasi TNI kepada keluarga tidak mampu di wilayah Kecamatan Negara.

Jamban diserahkan kepada keluarga Bapak Bajuri (60) dari Dusun Munduk Asem, Desa Cupel Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana.

Dari hasil konfirmasi, Danramil 1617-01/Negara Kapten I Gusti Nyoman Mawan mengatakan jambanisasi ini bertujuan untuk menjaga kesehatan lingkungan dimana warga agar tidak membuang kotoran di sembarang tempat.

"Jika membuang kotoran di sembarang tempat jelas akan mencemari air sungai juga lingkungan setempat sehingga lingkungan akan menjadi tidak sehat," jelas Danramil.

Menurutnya memang sudah tidak sepantasnya lagi di zaman seperti ini masih ada orang yang buang kotoran di sembarang tempat dan bapak Bajuri adalah salah satu dari keluarga miskin di wilayah Kecamatan Negara ini yang layak menjadi sasaran Jambanisasi.

Hal ini untuk meringankan beban sekaligus mendapat kehidupan yang layak atas sarana sanitasi keluarga dan pembangunan jamban untuk Bapak Bajuri. "Semoga jamban yang kita bangun bermanfaat untuk keluarga Bapak Bajuri," harap Danramil disambut ucapan trimakasih dari Bapak Bajuri. (JMS)

Rabu, 30 November 2016

Kodim Prakarsai Apel Nusantara Bersatu Gaungkan Bhinneka Tunggal Ika


Negara (Wisma Berita)

Apel Nusantara Bersatu yang berlangsung serentak seluruh Indonesia juga digelar oleh Kodim 1617/Jembrana. Pada apel yang dilaksanakan di Gedung Kesenian Bung Karno (GKBK) Kabupaten Jembrana Rabu  (30/11) pagi tersebut Wakil Bupati Jembrana Made Kembang Hartawan, disaksikan oleh anggota Forkominda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) seperti Dandim 1617/Jembrana Letkol Kav Hendra Ferdinandus, Waka Polres Jembrana A.A Rai Laba dan yang lainnya, Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat, TNI, Polri, PNS, Ormas dan Siswa SMP dan SMA menyampaikan orasi kebangsaan berjudul Membaca Kembali Keindonesiaan Kita dan Menjadikan Jembrana sebagai Taman Sarinya Bhineka Tunggal Ika.

Dalam orasinya itu, dengan penuh semangat Wabup Kembang menyebutkan, Indonesia sebagai bangunan peradaban negara bangsa, tentu tidaklah berdiri sendiri.
Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pergaulan peradaban dunia lainnya. Artinya keberadaan Indonesia sebagai sebuah nation tentu harus berinteraksi dengan negara - negara lain di dunia itu atas interaksi itulah kemudian melahirkan dinamika – dinamika baik yang disebabkan faktor internal dan external. Menurutnya sebagai sebuah bangsa, sejatinya Indonesia telah memiliki simpul – simpul peradaban sebagai pengikat dalam satu komunitas bersama yang kini juga disebut sebagai Empat Pilar Kebangsaan didalam berbangsa dan bernegara. Keempat pilar atau Konsensus dan simpul itu adalah Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI. “Tanpa simpul tersebut maka kita akan gampang menjadi sebuah bangunan peradaban negara bangsa yang rapuh. Yang mudah pecah tercerai berai hingga menyebabkan akan hilangnya sebuah kedaulatan. Apakah kita menginginkan hal seperti itu terjadi? Jelas Tidak!! Karena suka atau tidak kebhinekaan itu adalah sebuah keniscayaan insaniah bahkan ilahiah,”kata Kembang.

Demikian juga dengan keberadaan Kabupaten Jembrana, bahwa kebhinekaan merupakan kenyataan yang tidak terbantahkan. Bahkan secara historical dibuktikan bagaimana Raja Jembrana menerima “Nyame Selam” yang masuk ke Jembrana. Banyak bukti – bukti budaya yang hingga kini dapat kita lihat sebagai bentuk baru budaya lokal yang merupakan hasil interaksi budaya Islam Melayu dengan budaya Hindu Bali. Bahasa Melayu Loloan berbeda dengan Bahasa Melayu kebanyakan seperti Bahasa Melayu Riau dan Bahasa Melayu Malaysia.

Selain bahasa secara sosiologis juga berkembang budaya yang disebut penyame brayaan dengan tradisingejot. Sebuah interaksi cultural yang melahirkan prilaku budaya baru. Jangan heran jika di daerah Air Kuning, Medewi, Yehsumbul bahkan Loloan ditemukan nama yang memasukkan nama unsur Bali. “Seperti nama Nyoman Musadat Djohar, atau I Ketut Syahruwaldi Abas. Atau untuk nama perempuan Ketut Siti Aminah atau panggilan Men Siti.

Begitu mesranya bangunan peradaban yang diwujudkan oleh para leluhur kita, bahkan dalam catatannya di Kabupaten Jembrana tidak pernah terjadi ketegangan sosial yang berbau Sara. “Untuk itu tidaklah berlebihan jika di dalam kesempatan ini saya mengajak seluruh komponen masyarakat di Jembrana untuk bersama – sama mewujudkan Jembrana sebagai Taman Sarinya Bhineka Tunggal Ika,” kata Kembang.

Selain orasi Wabup Kembang, dalam apel tersebut juga diisi dengan doa bersama yang dibawakan oleh tokoh agama Hindu, Islam, Budha, Katolik dan Protestan secara bergiliran, termasuk pembacaan puisi kebhinnekaan oleh siswa. (JMS)

Sabtu, 26 November 2016

Lokasi Pembangunan Anjungan Cerdas Rambutsiwi Ternyata Wilayah Angker


Jembrana (Wisma Berita)

Pembangunan Anjungan Cerdas di kawasan Pura Rambutsiwi, Desa Yehembang Kangin, Kecamatan Mendoyo, Jembrana saat ini sedang berlangsung dan direncanakan kelar pada tahun 2018 mendatang.

Namun dibalik pelaksanaan pembangunan Anjungan Cerdas tersebut ada kisah-kisah mistis yang menarik untuk disimak. Kisah mistis ini oleh masyarakat setempat dikaitkan dengan keadaan lokasi pembangunan Anjungan Cerdas tersebut.

Kawasan tempat dibangunnya Anjungan Cerdas tersebut dulunya terkenal angker. Ini karena lokasinya masih berada pada kawasan Pura Rambutsiwi yang menurut para sesepuh desa menyimpan cerita mistis.

Menurut Jro Mangku Suardana, salah satu pemangku di Pura Rambutsiwi mengatakan, Kawasan Pura Rambutsiwi dulunya memang terkenal angker. 

Bersarkan cerita-cerita yang berkembang di masyarakat kawasan itu dulunya di tempati oleh seorang raksasa sakti dengan dikawal 2 ekor macan yakni macan hitam dan macan gading yang sangat buas.

"Raja raksasa itu mewajibkan rakyatnya untuk mempersembahkan guling manusia kepada dirinya,” tutur Jro Mangku Suardana, Sabtu (26/11/2016)

Karena permintaan raja raksasa yang nyeleneh itu, rakyatnya menjadi kesal dan marah. Kemudian anak raja raksasa itu diguling oleh rakyat untuk dipersembahkan kepada raksasa tersebut.

"Tapi akhirnya raja raksasa itu tahu kalau yang diguling itu anaknya. Rajapun murka dan mulai saat itulah raja raksasa itu mulai menyantap rakyatnya hidup-hidup,” imbuh Jro Mangku Suardana.

Semenjak itulah menurut Jro Mangku Suardana kawasan tersebut menjadi mencekam dan seram. Namun akhirnya datanglah seorang Pendeta yang sangat sakti yakni Dang Hyang Nirartha ke wilayah tersebut.

Terjadi perang kesaktian antara Dang Hyang Nirartha dengan Raja raksasa tersebut dengan hasil raja raksasa berhasil tunduk kepada Dang Hyang Nirarta. 

"Raja raksasa meminta ampun dan mengakui kesalahannya dan oleh Dang Hyang Nirarta raksasa itu diampuni dengan syarat harus menjadi pengikutnya,” kata Jro Mangku Suardana.

Disamping itu raja raksasa dan kedua macan yang menjadi pengawalnyapun di supat agar tidak bisa dilihat oleh rakyat atau manusia secara kasat mata dan hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang memiliki indra keenam.

Sejak saat itulah kawasan Rambutsiwi dan sekitarnya dikenal angker termasuk kawasan tempat dibangunnya anjungan cerdas tersebut. Dulunya sering warga melihat penampakan sosok macan gading serta raksasa di sekitar lokasi tersebut.

Termasuk warga tidak berani berbuat yang aneh-aneh di sekitar wilayah tersebut, termasuk untuk berbuat mesum atau sekedar berpacaran karena mereka percaya akan menemui bahaya jika dilanggar.

Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu terhadap dua orang pekerja proyek Anjungan Cerdas tersebut. Entah karena keangkeran lokasi tersebut atau karena hal lain, satu orang pekerja tiba-tiba lemas di lokasi proyek dan harus pulang lebih awal dan akhienya meninggal dunia.

Sementara satu pekerja lainnya tiba-tiba pingsan saat membongkar dan memindahkan pelinggih penunggu yang berada di lokasi proyek dan harus dilarikan ke Pukesmas setempat.

Terkait hal itu, maka Jro Mangku Suardana akhirnya juga ikut melakukan pengacian sepiritual demi keamanan pelaksanaan proyek Anjungan Cerdas.

"Benar ada kejadian yang menimpa pekerja proyek itu. Tapi kami tidak berani menyimpulkan itu karena lokasinya yang anker, mungkin saja meninggal karena memang memiliki penyakit atau pingsan karena kepadasan,” terang I Kadek Suardika, salah seorang tokoh masyarat setempat. (JMS)