Senin, 26 September 2016

Banyaknya Pertanyaan, Pertanda Kegiatan Sasaran Non Fisik TMMD Disimak Peserta Dengan Seksama


Jembrana (Wisma Berita)

HIV adalah virus menular yang dapat menyerang dan merusak sistem kekebalan tubuh sehingga membuat kita tidak bisa bertahan terhadap penyakit-penyakit yang menyerang tubuh, hingga sampai dengan saat ini telah banyak sekali merunggut korban jiwa. Itulah salah satu penyampaian materi penyuluhan yang merupakan sasaran kegiatan non fisik dari TMMD ke-97 tahun 2016 di Dusun Serong, Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana yang digelar oleh Satgas TMMD Kodim 1617/Jembrana.

Bila sistem kekebalan tubuh kita sudah rusak atau lemah, maka dengan mudah kita akan terserang oleh berbagai penyakit yang ada di sekitar kita seperti TBC, Diare, Sakit Kulit dan lain-lain, demikian lebih lanjut diterangkan oleh penyuluh dari Dinas Kesehatan Pemkab Jembrana, Ida Bagus Made Adnyana. "HIV belum bisa disembuhkan dan sampai saat ini baru ditemukan obat yang bisa digunakan hanya untuk memperlambat perkembangan penyakitnya saja sehingga penderitanya bisa menjalani hidup dengan normal lama dari seharusnya. Dengan diagnosis HIV dini dan penanganan yang efektif, pengidap HIV tidak akan berubah menjadi AIDS yang merupakan stadium akhhir dari infeksi virus HIV", jelasnya.

Dalam penyuluhan yang digelar Sabtu (26/9/16) malam di Balai Dusun Rukun, Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, yang diantaranya dihadiri oleh Danramil 1617-04/Pekutatan Kapten Inf Supena selaku Komandan SSK TMMD Kodim 1617/Jembrana, Babinsa Gumbrih Serda I Nyoman Gede Rosadi, Bhabinkamtibmas Desa Gumbrih Bripka I Wayan Suarja, Kepala Desa Gumbrih I Ketut Nurjana dan masyarakat Desa Gumbrih yang berjumlah keseluruhan sekitar 70 orang tersebut, juga diberikan materi tentang penyakit paru-paru oleh Dr. Sukma dari Puskesmas Pembantu Desa Gumbrih.

Dari pantauan di lokasi, melihat banyaknya pertanyaan yang dilontarkan dalam setiap materi, menandakan bahwa penyuluhan tersebut adalah disimak dengan sangat seksama oleh para peserta. (JMS)

Apkam Gabungan Sasar Hiburan Malam


Jembrana (Wisma Berita)

Beberapa tempat hiburan malam yang ada di wilayah Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali, Jumat (23/9/16) malam dirazia jajaran Subdenpom IX/3-2 Negara.

Razia yang juga melibatkan Jajaran Propam Polres, Proovost serta Unit Intel Kodim 1617/Jembrana dan Satpol PP Pemkab Jembrana dipimpin Komandan Sub Denpom IX/3-2 Negara, Lettu CPM I Gusti Nyoman Wiranata ini menyasar anggota TNI yang melanggar disiplin.

Di beberapa tempat hiburan malam yang disasar, petugas langsung memeriksa pengunjung satu per satu, hingga tempat hiburan yang sebelumnya remang-remang seketika terang dan suara dentuman lagu berganti pengumuman terkait razia tersebut. Disana para pengunjung yang diantaranya sudah terpengaruh minuman beralkohol sempat terkejut mendapati sejumlah petugas datang.

Selain ke meja pengunjung, petugas juga memeriksa sekitar kafe hingga di belakang.


Dari empat kafe di sekitar Kota Negara, Kabupaten Jembrana tidak didapati anggota TNI. Namun, sejumlah pengunjung dan pelayan kafe yang tidak dapat menunjukkan identitas diri didata oleh Satpol PP Pemkab Jembrana.

"Razia dari Subdenpom ini merupakan upaya pengawasan anggota TNI yang melakukan pelanggaran disiplin. Selama seminggu operasi ini lebih ditekankan dalam Pekan Disiplin TNI menjelang HUT TNI", jelas Komandan Subenpom IX/3-2 Negara, Lettu CPM I Gusti Nyoman Wiranata.

Dijelaskan juga, razia ini merupakan rangkaian kegiatan Pekan Disiplin TNI. Adapun sasaran utamanya adalah anggota yang melakukan pelanggaran disiplin, seperti yang masuk ke tempat hiburan malam, terlibat narkoba dan asusila juga kemungkinan penyalahgunaan senjata api, amunisi, perkelahian antar anggota TNI, kesatuan lain dan masyarakat.

Razia juga dilakukan di jalan raya, untuk mencegah penyalahgunaan Nomor register TNI (Plat Dinas). Pemeriksaan disini meliputi kelengkapan berkendara pada anggota TNI (KTA, SIM, STNK dan surat ijin keluar markas).

"Berikut, untuk penindakan pelanggaran akan dilaporkan kepada masing-masing Komandan Satuannya", imbuh Komandan Subdenpom IX/3-2 Negara, Lettu CPM I Gusti Nyoman Wiranata. (JMS)

Selain Bangun Jembatan, Satgas TMMD Juga Bedah Rumah Warga Kurang Mampu


Jembrana (Wisma Berita)

Di samping pembangunan jembatan dan pembuatan badan jalan sepanjang 200 meter, yang merupakan sasaran pokok dari TMMD ke-97 tahun 2016 di Dusun Serong, Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, hari ini Senin (26//9/16) Satgas TMMD Kodim 1617/Jembrana juga melakukan bedah rumah milik I Wayan Sudarmawan (46), salah seorang warga setempat yang kurang mampu.

Dari pantauan di lokasi, tampak beberapa anggota TNI dari Kesatuan Kodim 1617/Jembrana yang tergabung dalam Satgas TMMD tersebut bersama warga fokus melakukan perbaikan total terhadap rumah tersebut.

Mulainya pengerjaan bedah rumah yang merupakan salah satu sasaran fisik dari pelaksanaan TMMD itu langsung dikunjungi Dandim 1617/Jembrana (Letkol Kav Hendra Ferdinandus). "Pengerjaan bedah rumah ini merupakan sasaran fisik tambahan dari TMMD yang nantinya akan dilakukan terhadap dua warga kurang mampu, dimana hari ini salah satunya mulai dikerjakan dan harus kelar seiring dengan berakhirnya kegiatan TMMD termasuk jambanisasi sebanyak 10 unit", jelas Dandim 1617/Jembrana.


Dandim 1617/Jembrana menambahkan, kegiatan ini juga diharapkan dapat semakin mempererat jalinan hubungan tali kasih dan komunikasi sosial dengan masyarakat. Sebagaimana diketahui bahwa tugas pokok TNI selain perang, salah satunya adalah pembinaan teritorial hingga Kodim 1617/Jembrana akan senantiasa siap mendukung tugas Pokok TNI dimaksud dengan selalu siap membantu mengatasi kesulitan rakyat dan selalu siap berada di tengah-tengah masyarakat di wilayah binaannya, sehingga sasaran tugas pokok pembinaan teritorial ini secara umum bisa tercapai sesuai harapan.

Sementara pemilik rumah mengaku sangat bersyukur atas bedah rumah itu. "Kami sangat bahagia dan senang sekali bapak TNI membangunkan rumah baru untuk saya dan anak-anak tanpa harus mengeluarkan uang sepersenpun, terima kasih pak Tentara”, ujar I Wayan Sudarmawan. (JMS)

Sejarah Singkat Pura Tirtha Dang Kahyangan Rambut Siwi


Oleh :
JRO MANGKU SUARDANA
Pasraman Sesepuh

Om Swastyastu,

         Pura Tirtha Dang Kahyangan Luhur Rambut Siwi adalah merupakan salah satu pura (perahyangan) yang ada di kawasan Pura Dang Kahyangan Luhur Rambut Siwi yang berlokasi di Desa Yeh Embang, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali dimana sejarah berdirinya berkaitan erat dengan kisah perjalanan (napak tilas) dari Dang Hyang Nirartha yang di Bali lebih dikenal dengan nama Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh artinya "seorang Pendeta Sakti yang baru tiba".

Dalam kitab Dwijendra Tatwa diuraikan bahwa, pada sekira abad ke 16 Masehi, setelah beberapa lama tinggal di Gelgel suatu hari kemudian Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh ingin menjelajahi (napak tilas) alam Bali, dimana keinginan tersebut disampaikan kepada Dalem (raja) dan Dalem selanjutnya mengijinkan atas keinginan beliau.

Dalam napak tilas Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh, dikisahkan mula-mula beliau menuju daerah Barat pulau Bali yang sekarang bernama Jembrana lalu berbelok ke Selatan dan berbalik ke Timur menyusuri pantai hingga bertemulah dengan seorang Penjaga yang sedang duduk pada sebuah pura.

Setelah Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh dekat, dengan cepat Penjaga itu menghampiri sang Pendeta dan berkata :

"Wahai sang Pendeta, dari mana dan hendak kemanakah tujuan sang Pendeta saat ini !? Janganlah tergesa-gesa, sebaiknya berhenti sebentar di sini, saya mempermaklumkan bahwa di sini ada sebuah pura (perahnyangan) yang sangat angker dan keramat sebagai tempat kami bersembahyang. Barang siapa lalu di sini tidak menyembah, tentu nanti akan diterkam harimau dan sebagainya (maksudnya adalah mendapatkan marabahaya). Maka dari itu, bersembahyanglah dulu di sini demi keselamatan sang Pendeta !!". Demikian ucapan sang Penjaga seraya menghambat perjalanan sang Pendeta.

Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh kemudian menjawab : "Jika demikian adanya, maka baiklah dan antarkanlah saya masuk ke dalam pura untuk menyembah !!".

Sang Pendeta diantar masuk ke dalam pura dan setiba di hadapan sebuah bangunan Palinggih, sang Pendeta lalu duduk bersila melalukan yoga, di sana beliau mengheningkan cipta dengan memandang ujung hidung (Angranasika), menunggalkan jiwatman (Bayu, Sabdha dan Idep) kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Ketika beliau sedang asik melakukan yoga, tiba-tiba robohlan bangunan Pelinggih yang ada di hadapan beliau dan hal itu disaksikan nyata oleh sang Penjaga lalu menangis seraya memohon ampun kepada sang Pendeta.

Sang Penjaga berkata : "Ampunilah hamba wahai sang Pendeta, kami telah berbuat kesalahan karena memaksa sang Pendeta untuk menyembah di sini".

Mendengar permohonan maaf dengan kesungguhan hati dari sang Penjaga, lalu sang Pendeta berbelaskasihan, di sana dengan segenap kesaktian (kawisesan) beliau kemudian kembali beryoga dan dalam sekejap bangunan yang semula roboh berdiri kembali menjadi utuh. Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh selanjutnya melepas gelung rambut beliau sehingga rambut beliau menjadi terurai dan seraya mencabut sehelai rambut, beliau berkata : "Wahai engkau sang Penjaga, terimalah sehelai rambut saya lalu simpanlah (siwi) untuk mengenangkan kejadian ini dan bersembahyanglah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar senantiasa memperoleh kedamaian, keselamatan serta kesejahteraan". Hingga sejak itulah, pura ini dinamakan Pura Duhur Rambut Siwi yang kemudian berkembang (setelah di-purana-kan) karena sejarah berdirinya erat berkaitan dengan kisah perjalanan (napak tilas) Dang Hyang Nirartha menjadi Pura Dang Kahyangan Luhur Rambut Siwi artinya sebuah pura yang luhur atau duhur sama dengan tinggi (agung) merupakan tempat disimpannya sehelai rambut dari Dang Hyang Nirartha (Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh) dan kemudian setiap 6 (enam) bulan sekali dilaksanakan persembahyangan bersama oleh seluruh umat beragama Hindu atau yang dikenal dengan istilah Pujawali (Piodalan) tepatnya setiap hari Rabu panca wara Umanis wuku Perang Bakat.

Atas kejadian itu, informasi tentang keberadaan Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh yang memiliki kemampuan sepiritual sangat tinggi dengan cepat menyebar kepada seluruh warga, sehingga banyak warga yang datang menghadap sang Pendeta untuk memohon bimbingan sepiritual, ada pula yang memohon kesembuhan, anugerah kesejahteraan, dan sebagainya hingga membuat sang Pendeta berkenan menunda keberangkatan dalam melanjutkan perjalanan (napak tilas) beliau.

Di sana sang Pendeta memberikan bimbingan sepiritual kepada seluruh warga yang datang dan memohon, mengajarkan tuntunan agama terutama ajaran bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, kepada Dewa-Dewi atau Bhatara-Bhatari sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi, juga bhakti kepada Leluhur, dan sebagainya agar memperoleh kedamaian, keselamatan serta kesejahteraan hidup secara lahir maupun bhatin.

Hingga esok paginya, saat sang surya (matahari) mulai memancarkan cahayanya ke seluruh persadha, setelah selesai melaksanakan sembahyang (Surya Sewana), sang Pendeta memercikkan Tirtha yang dibuat dari sumber air yang mengalir dari sebuah goa yang ada di kawasan tersebut (sekarang Pura Tirtha), selanjutnya sang Pendeta berpamit kepada segenap warga yang telah tercerahkan, kemudian Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh melanjutkan perjalanan (napak tilas) beliau.

Berangkat dari legenda itulah, hingga sekarang Pura Tirtha yang merupakan salah satu dari Perahyangan di Pura Dang Kahyangan Luhur Rambut Siwi diyakini menjadi tempat suci (stana) untuk memuja kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Dewa Wisnu (Dewa Air) serta menjadi tempat suci untuk memohon anugerah bimbingan sepiritual dari alam Niskala (gaib) kepada Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh, memohon kesejahteraan, kesembuhan, memohon Pangelukatan (ritual pembersihan badan atau Bhuana Alit dengan sarana Tirtha) dan sebagainya.

Pura ini disebut juga dengan Pura Goa Tirtha karena dalam Pura Tirtha ini memang terdapat sebuah goa sebagai tempat mengalirnya air suci (tirtha) dimaksud yang berada di kawasan Pura Dang Kahyangan Luhur Rambut Siwi dan tidak pernah kering atau berhenti mengalir meski di saat musim kemarau sekalipun.

Pura Tirtha Dang Kahyangan Luhur Rambut Siwi terbagi atas 3 (tiga) halaman (Tri Mandala), yakni :

1. Halaman Utama disebut Utama Mandala, adalah berada dalam goa yang kira-kira lokasinya tepat di bawah Pura Luhur Dang Kahyangan Luhur Rambut Siwi terdapat alur seperti sebuah perempatan (Catus Pata) yang masing-masing alurnya laksana tanpa ujung karena hingga saat ini tidak ada seorangpun yang mengetahui ujung atau akhir dari masing-masing alur goa ini. Sehingga, secara alam Niskala (gaibnya) umat meyakini bahwa alur goa yang mengarah ke Timur Laut berujung ke Pura Besakih di Gunung Agung, itu sebabnya keberadaan Pura Luhur juga diyakini sebagai pengayatan ke Pura Besakih, sedangkan alur goa yang mengarah ke Barat Laut diyakini berujung ke Pura Melanting di Pulaki sehingga di Pura Dang Kahyangan Luhur Rambut Siwi ada pengayatan Pura Melanting dan alur goa yang mengarah ke Tenggara diyakini berujung ke Pura Dalem Ped di Nusa Penida sehingga di Pura Dang Kahyangan Luhur Rambut Siwi ada pengayatan Pura Dalem Ped, sementara alur goa yang mengarah ke Barat Daya sebagai ke pintu keluar goa yang mengarah ke Laut (Segara) diyakini umat sebagai pengayatan ke setiap pura yang ada di luar pulau Bali seperti Pura Blambangan, Pura Alas Purwa, Pura Semeru Agung dan seterusnya.

2. Halaman Tengah disebut Madya Mandala, dimana pada halaman ini terdapat beberapa Palinggih dan Archa, diantaranya :

a. Sebuah palinggih Piasan adalah difungsikan sebagai stana Pralingga dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan YME) dalam manifestasi sebagai Dewa Wisnu.

b. Dua buah palinggih Padma sebagai simbol Pralingga Purusha - Perdhana (Kiwa - Tengen) yakni berlakunya hukum keseimbangan alam (Rwa Bhineda).

c. Keberadaan dua buah Archa diantaranya, Archa Ida Pedanda Wawu Rawuh dan Archa Ida Pedanda Istri Sri Patni Kaniten ialah Sakti dari Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh, guna mengenangkan jasa-jasa suci beliau sebagai cikal bakal Pura Dang Kahyangan Luhur Rambut Siwi.

d. Archa naga cobra berkepala tiga sebagai simbol bahwa kesatuan semesta ini sesungguhnya terbagi atas tiga tingkatan alam disebut Tri Loka, yakni alam Bhur Loka adalah alam para Bhuta Kala, alam Bwah Loka adalah alam Manusia, Hewan serta Tumbuhan (Bumi) dan alam Swah merupakan alam para Dewa sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Wdhi Wasa.

e. Archa Dewa Siwa sebagai simbol Siwaisme.

f. Dua buah Archa Macan (Harimau) yakni Macan Petak (Putih) dan Macan Gading (Orange) merupakan simbul Ancangan (Parewangan).

g. Balai Pengastawa adalah berfungsi sebagai tempat Pemangku dalam memimpin persembahyangan umat.

3. Halaman Luar disebut Pratama Mandala, terdapat sebuah Palinggih berupa Padma sebagai pengayatan ke Daleming Segara (Laut).

Sebelumnya di tempat suci ini belumlah seperti sekarang, dimana keberadaan air suci yang mengalir secara terus-menerus tanpa pernah mengering meski di saat musim kemarau sekalipun pada tempat suci ini hanya dimanfaatkan untuk membasuh diri oleh warga sekitar setelah mandi di pantai. Berikut adanya kepedulian banyak warga, lalu diwujudkanlah tempat suci ini menjadi sebuah pura (perahyangan) dan seiring penataan Kapengemponan di Pura Dang Kahyangan Luhur Rambut Siwi, bersama harapan agar adanya orang yang disucikan sebagai penuntun umat dalam melaksanakan persembahyangan, baru kemudian sejak tahun 1990 dinobatkan seorang warga Desa Yeh Embang, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali bernama Jro Mangku Waniya sebagai pemimpin (Manggala) persembahyangan atau Pemangku pertama, selanjutnya diteruskan putra sulung beliau yang bernama Jro Mangku Suardana dinobatkan sejak tahun 2016 sebagai Pemangku kedua di Pura Tirtha Dang Kahyangan Luhur Rambut Siwi. (!)

Om Santih, Santih, Santih Om

Minggu, 25 September 2016

TMMD Perkuat Hubungan Antara Masyarakat Dengan TNI & Polri


Jembrana (Wisma Berita)

Kegiatan TMMD ke-97 yang digelar oleh Satgas TMMD Kodim 1617/Jembrana di Dusun Serong, Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, merupakan suatu kegiatan yang dapat semakin memperkuat hubungan antara masyarakat dengan TNI & Polri dalam membangun negara.

"Kami berharap, sebagian masyarakat yang dahulunya sungkan bergaul dengan TNI & Polri sekarang bisa lebih terbuka dan secara bersama-sama melaksanakan pembangunan," terang Bhabinkamtibmas Desa Pengeragoan, Aiptu I Gusti Suartama dari kesatuan Polsek Pekutatan yang juga tergabung dalam Satgas TMMD Kodim 1617/Jembrana.

Hal senada juga diungkapkan Babinsa Gumbrih, Serda I Nyoman Adi Rosadi dari kesatuan Koramil 1617-04/Pekutatan, dimana selama kegiatan TMMD berlangsung prajurit harus menempati rumah warga dan menjadikan pemilik rumah yang dihuni sebagai orang tua asuh serta menganggap seperti rumah sendiri. Hal tersebut adalah bertujuan agar prajurit ikut merasakan kebersamaan, suka dan duka sebagai layaknya sebuah keluarga. "Bahkan uang makan juga kita diserahkan kepada tuan rumah diperuntukkan keperluan memasak sehari-hari, dimana dalam satu rumah setidaknya tinggal empat sampai lima orang prajurit," terangnya.

Sementara itu, Dandim 1617/Jembrana (Letkol Kav Ferdinandus) menjelaskan, selama kegiatan TMMD diperkirakan ada 150 personel yang terlibat, mereka terdiri dari berbagai instansi, seperti TNI, Polri dan Pemkab Jembrana serta masyarakat sekitar. Dandim berharap TMMD yang digelar dapat menumbuhkembangkan rasa cinta Tanah Air melalui prajurit TNI kepada masyarakat selama kegiatan berlangsung.

"Selama sebulan penuh prajurit akan menetap di rumah barunya, dari sana kami berharap terjalin hubungan emosional yang baik sehingga rasa cinta tanah air yang kuat pada jiwa prajurit serta dapat ditiru oleh pemilik rumah dan keluarganya, bukan saja hanya sebatas di rumah keluarga yang prajurit tempati, akan tetapi juga disebarluaskan ke masyarakat lain", jelas Dandim 1617/Jembrana.

"Terlebih sekarang dihadapkan dengan berbagai situasi, dimana paham dan aliran yang tidak jelas asal-usulnya mulai mempengaruhi berbagai kalangan, meskipun tidak terdeteksi di Kabupaten Jembrana ini, minimal melalui TMMD hal itu bisa diantisipasi," imbuhnya.

Sejak dibukanya TMMD melalui upacara resmi yang dipimpin Wakil Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, pada 20 September 2016 yang dihadiri Kasdam IX Udayana, Brigjen TNI Stefhanus Tri Mulyono, Wakil Asisten Operasi Kodam IX Udayana Letkol Inf. Sansan Iskandar termasuk para  Dandim se-Bali, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah  Kabupaten Jembrana, para tokoh agama, tokoh adat tokoh masyarakat serta para tokoh pemuda se-Kabupaten Jembrana, dengan sasaran fisik TMMD yakni pembangunan jembatan sepanjang 20 meter dengan lebar 3,5 meter dan tinggi 5 untuk menghubungkan jalan dari Dusun Serong, Desa Gumbrih menuju Dusun Pengeragoan Dauh Tukad, Desa Pengeragoan, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, juga dilakukan beberapa kegiatan fisik lainnya berupa pembuatan badan jalan, bedah rumah dan jambanisasi. Untuk badan jalan dikerjakan sepanjang 200 meter dengan lebar 6 meter, sedangkan untuk bedah rumah sebanyak 2 unit dan jambanisasi sebanyak 10 unit.

Bukan hanya itu, kegiatan TMMD juga dibarengi dengan penyelenggaraan sasaran non fisik yang dilakukan melalui metode penyuluhan berbagai materi dengan melibatkan berbagai unsur serta lembaga, seperti bidang Hukum dan Narkoba dari Polres Jembrana, bidang Pertanian, Kesehatan, Wasbang dan Cinta Tanah Air serta penyuluhan-penyuluhan lainnya dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Pemkab Jembrana terkait dengan Hak dan Kewajiban WNI dan Administrasi Kependudukan.

Adapun lama kegiatan TMMD tersebut, adalah dimulai sejak 20 September sampai 19 Oktober 2016 dengan total dana berupa hibah dari Pemkab Jembrana sebesar Rp. 1 milyar. (JMS)

Masyarakat Banyak Belajar Konstruksi Dari TMMD



Jembrana (Wisma Berita)

Sejumlah warga di lokasi TMMD ke-97 yang digelar oleh Satgas TMMD Kodim 1617/Jembrana di Dusun Serong, Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, Minggu (25/9/16) mengaku sangat antusias bergabung bersama TNI dalam pengerjaan sasaran fisik TMMD yakni pembangunan jembatan sepanjang 20 meter dengan lebar 3,5 meter dan tinggi 5 untuk menghubungkan jalan dari Dusun Serong, Desa Gumbrih menuju Dusun Pengeragoan Dauh Tukad, Desa Pengeragoan, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana.

Salah seorang warga Dusun Serong, I Gede Wirata (47) mengaku sangat senang adanya TMMD tersebut. "Saya senang sekali bisa bergabung TNI dalam membuat jembatan ini. Di samping sasaran TMMD ini adalah untuk kepentingan masyarakat, karena warga yang dalam keseharian adalah mayoritas berfrofesi sebagai tukang bangunan merasa dapat belajar banyak khususnya tentang cara pembuatan kontruksi bagunan", jelas I Wayan Wirata.


Berikut warga lainnya, I Made Sugiarta (44) menjelaskan, dulu warga yang mau bekerja ke sawah atau ladang termasuk anak-anak ketika hendak berangkat dan pulang sekolah harus menyebrang dengan cara menyusuri sungai yang saat ini menjadi sasaran TMMD karena sebelumnya memang tidak ada jembatan. "Kasihan anak-anak harus batal ke sekolah untuk belajar jika terjadi banjir di sungai, disini saya merasa sangat senang karena dengan TMMD ini digelar, berarti TNI diantaranya sudah berperan dalam menyelamatkan generasi bangsa", jelas I Made Sugiarta seraya berharap sasaran TMMD dapat segera rampung.

Sementara itu, Peltu I Ketut Sarma, anggota Kodim 1617/Jembrana selaku Kepala Pelaksana Kegiatan TMMD tersebut mengatakan awalnya mendapatkan pengetahuan prakstis tentang pembuatan jembatan adalah saat dahulu menempuh Pendidikan Militer. "Pengetahuan yang saya miliki selanjutnya saya kembangkan terus dengan banyak membaca buku-buku tentang cara pembuatan jembatan sebagai referensi", jelasnya. Pengalaman, itulah yang kemudian mematangkan Peltu I Ketut Sarma dalam membuat jembatan. Hingga saat ini, Peltu I Ketut Sarma mengaku telah merampungkan sebanyak lima jembatan dengan hasil teruji di Kabupaten Jembrana yang digelar melalui program TMMD oleh Kodim 1617/Jembrana. (JMS)

Sabtu, 24 September 2016

Tomas Harap TMMD Dapat Menjadi Pemicu Tumbuhkan Kembali Kesadaran Warga Dalam Membangun Desa


Jembrana (Wisma Berita)

Sejumlah tokoh masyarakat setempat berharap, pelaksanaan TMMD ke-97 tahun 2016 di Dusun Serong, Desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana yang dilaksanakan oleh Kodim 1617/Jembrana, kedepannya dapat menjadi contoh atau pemicu dalam menumbuhkan kembali akan kesadaran dan semangat gotong-royong pada warga dalam membangun desa selanjutnya pada sektor lain.

Kepala Desa Gumbrih (I Ketut Nurjana) Sabtu (24/9/16) sore mengatakan, bahwa pihaknya sangat menyambut baik pelaksanaan TMMD terutama pada sasaran fisik yakni pembangunan jembatan sepanjang 20 meter dengan lebar 3,5 meter dan tinggi 5 untuk menghubungkan jalan dari Dusun Serong, Desa Gumbrih menuju Dusun Pengeragoan Dauh Tukad, Desa Pengeragoan ini, demikian juga terhadap sasaran non fisik yang diisi dengan berbagai penyuluhan terhadap warga. "Saya senantiasa berpesan kepada warga agar tidak masa bodoh, kita malu kepada TNI, karena apa yang mereka laksanakan tiap hari ini adalah untuk membantu masyarakat", ucapnya. Namun demikian, warga juga diharapkan bisa mengatur waktu seperti misalnya bisa sambil ke sawah atau ladang serta menunaikan kewajiban lain di samping kegiatan TMMD.

Sementara di sela-sela kegiatan, tampak hadir Dandim 1617/Jembrana (Letkol Kav Hendra Ferdinandus). Selain untuk melihat langsung pengerjaan TMMD, Dandim juga ingin memberikan semangat kepada seluruh pelaksana TMMD.

Di lokasi TMMD, Dandim menyampaikan bahwa sasaran TMMD yang dibuat harus berkualitas dan tidak asal-asalan sehingga daya pakainya lama. "Hal terpenting adalah, masyarakat nantinya harus bisa merawat hasil dari TMMD ini, karena sedikit saja terjadi kerusakan apabila dibiarkan akan menimbulkan kerusakan yang besar, sehingga butuh kepedulian masyarakat untuk merawatnya," jelas Dandim.


Dandim 1617/Jembrana juga tak lupa mengucapkan terima kasih kepada masyarakat dan prajurit yang telah begitu bersemangat dalam melaksanakan kegiatan TMMD ke-97. Pihaknya beharap, semua program TMMD baik yang bersifat fisik ataupun non fisik tersebut bisa terselesaikan dengan maksimal sesuai waktu yang telah direncanakan.

Dandim berpesan, agar para anggotanya selalu memperhatikan faktor keamanan dalam setiap kegiatan dan bisa memaksimalkan tugas serta senantiasa dapat memelihara komunikasi maupun koordinasi dengan masyarakat. Dandim juga memerintahkan, dalam pelaksanaan kegiatan TMMD hendaknya juga memperhatikan kebutuhan masyarakat, sehingga waktunya tidak berbenturan dengan kegiatan sehari-hari.


Di lain sisi, Danramil 1617-04/Pekutatan (Kapten Inf Supena) selaku Komandan SSK TMMD mengaku bersyukur walaupun di lokasi kembali diguyur hujan namun pengerjaan TMMD pada H+5 hari ini baik pada sasaran fisik maupun non fisik dapat mencapai target sesuai jadwal yakni 25% dari total target dan hal yang paling penting adalah seluruh pelaksana TMMD senantiasa masih diberikan kesehatan serta aman dalam setiap pelaksanaan kegiatan. (JMS)